Berita Tulungagung
Real Sultan Berganti Menjadi Commero, Ribuan Anggota Bingung Nasib Uangnya
Auto Gajian atau Real Sultan menjanjikan, dengan pendaftaran Rp 1,5 juta maka anggota bisa mendapatkan Rp 150 juta dalam 7 bulan.
Penulis: David Yohanes | Editor: Deddy Humana
SURYA.CO.ID, TULUNGAGUNG - Sejak kegiatan investasi bodong berskema ponzi diblokir oleh Kementerian Informasi dan Komunikasi (Menkominfo), para anggotanya yang berjumlah ribuan orang mencari kejelasan dari manajemen atau foundernya, Jumat (30/1010).
Para anggota Real Sultan itu bingung dengan nasib uang yang sudah digunakan untuk mendaftar, sedangkan kini founder Auto Gajian atau Real Sultan menghilang. Padahal ada belasan ribu anggota ingin kepastian kelanjutan sistem yang sudah dijalankan.
Seperti diketahui, sistem Real Sultan sudah macet sejak Juni 2020. Padahal ada ribuan anggota yang belum menerima transferan uang. Majemen kemudian mengubah nama menjadi Commero.
“Sebelumnya mau diganti Go For Vita. Tetapi sudah ramai duluan, sehingga dibatalkan diganti Commero,” kata Salah satu korban berinisial SS.
Auto Gajian atau Real Sultan menjanjikan, dengan pendaftaran Rp 1,5 juta maka anggota bisa mendapatkan Rp 150 juta dalam waktu 7 bulan.
SS mengatakan, pada 18 September 2020 situs Real Sultan diblokir Kementerian Informasi dan Komunikasi. “Manajemen tidak jujur, tidak menjelaskan alasan pemblokiran itu,” ungkap SS.
Dan pergantian nama menjadi Commero terkesan menjadi alat cuci tangan manajemen Real Sultan. Sebab nama-nama yang selama ini dikenal di Real Sultan, tidak ditemui sebagai owner maupun founder Commero.
Para anggota bersikukuh menuntut manajemen Real Sultan, dan tidak tidak terpaku ke Commero. “Kami tetap menuntut orang-orang lama. Kami akan mengejar hak kami di Real Sultan atau Auto Gajian,” tegas SS.
Kabarnya, seluruh anggota akan dipindah dalam sistem Commero. Namun sistem ini berubah, seluruh anggota dijanjikan finis di angka Rp 30 juta, bukan lagi Rp 150 juta.
Tentu saja hal ini yang membuat anggota berontak dan merasa ditipu. “Anjloknya jauh sekali, dari Rp 150 juta menjadi Rp 30 juta. Silver, Gold, platinum dan diamond difiniskan sama,” keluh SS.
Sebelumnya, founder Real Sultan selalu menggembar-gemborkan punya hotel, obyek wisata dan kantor tiga lantai. Karena itu para anggota menuntut aset-aset berharga itu dijual dan dipakai mengganti uang para anggota.
Sebab kenyataannya manajemen selama ini juga mendapat uang tunai dari pendaftaran. SS mengungkapkan, dari setiap uang pendaftaran Rp 1,5 juta dari anggota baru, perekrut atau leader mendapat bagian Rp 500.000.
Sisanya, Rp 200.000 masuk ke manajemen sebagai uang tiket dan Rp 800.000 ditransfer ke anggota lain. Belakangan diketahui, mereka yang sudah finis Rp 150 juta adalah para kaki tangan founder. “Mereka punya banyak akun, sekarang kaya raya semua. Rata-rata mobilnya Pajero,” tutur SS.
Selain itu uang dari manajemen Real Sultan juga diduga dicuci lewat sebutan PT dan koperasi di Jawa Tengah. Dengan demikian uang dari hasil menjalankan skema ponzi ini tidak ketahuan, dan seolah hasil usaha dari PT dan koperasi tersebut. ***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/investasi-bodong-auto-gajian.jpg)