Breaking News:

Teori Mengemudi 3 Detik: Cara Aman Cegah Kecelakaan Serudukan Mobil

Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, juga mengatkan, jarak aman saat berkendara merupakan faktor penting

Editor: Suyanto
SURYA.co.id/ M Sudarsono
Kecelakaan Beruntun di Tuban, Sabtu (12/1/2019). 

SURYA.co.id I JAKARTA - Kecelakaan mobil menyeruduk mobil di depannya kerap terjadi, utamanya di jalan-jalan bebas hambatan. Nah untuk menghindari itu, Budi Setiyadi, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berbagi tips menghindarinya.

"Kejadian seperti tadi itu memang kerap ditemui saat ada kepadatan di jalan tol, karena itu untuk pengendara diharapkan jangan lengah atau melakukan hal-hal yang bisa memecah konsentrasi berkendara," ucap Budi saat dihubungi , Rabu (28/10/2020).

"Pengendara harus selalu fokus pada kegiatannya, karena apa yang dilakukan juga menyangkut keselamatan banyak orang. Perhatikan jarak aman, bila memang sudah padat atur ritme kecepatan dengan kendaraan depan," kata dia.

jarak aman versi Kemenhub
jarak aman versi Kemenhub (kompas.com/ Kemenhub))

Kuncinya Jarak Aman

Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, juga mengatkan, jarak aman saat berkendara merupakan faktor penting yang harus selalu dijaga setiap pengendara.

Bahkan penerapan jaga jarak ini aman tersebut tak hanya berlaku di jalan tol, tapi di mana saja saat sedang membawa kendaraan. Caranya, bisa dengan menerapkan teori 3 detik.

Ilustrasi jaga jarak aman 3 detik
Ilustrasi jaga jarak aman 3 detik (kompas.com/ivanhumphrey.blogspot)

Menurut Jusri, teori ini dalam dunia safety driving sudah banyak diterapkan. Pengukuruan jarak antar kendaraan memang pun memang pada dasarnya menggunakan satuan detik, bukan metrik.

Penerpannya bisa dilakukan dengan mengikuti kendaraan yang searah dan pastikan bila kecepatan kendaraan kita dengan kendaraan di depan sama. Artinya mobil yang kita bawa dengan mobil di depan berlari pada kecepatan yang sama.

"Kemudian cari objek statis untuk dijadikan patokan atau tolak ukur yang ada di kiri atau kanan jalan, bisa berupa pohon, jembatan, atau papan kilometer. Bila sudah menentukan, dan kendaraan di depan sudah melewati batas tersebut, makan langsung mulai lakukan perhitungan," ujar Jusri.

"Perhitungan dilakukan dengan menyebutkan satu dan satu, satu dan dua, satu dan tiga, sampai kendaraan kita tetap melewati patokan tadi. Saat hasil hitungan jaran dengan objek status yang sudah ditentunkan sesuai, berarti kendaaran sudah berada di jarak aman," kata dia.

Penyebutan cara hitung dengan cara "satu dan satu, satu dan dua, serta seterusnya" dilakukan agar hasil yang didapatkan lebih maksmal atau akurat. Hal ini karena kemampuan persepsi manusia dalam melihat baya itu juga membutuhkan waktu kurang lebih 3 detik.

"Mulai dari mata melihat, otak merespn, sampai menghinjak rem, semuanya secara total memakan waktu kurang dari 1 detik. Sedangkan reaksi mekanis berjalan saat rem diinjak, buster bekerja dorong minyak rem sampai kaliper, memiliki durasi setengah detik," ucap Jusri.
Hindari Pengereman Mendadadk

Terkait inseden tabrakan beruntun yang terjadi, General Manager Traddif PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek (JCC) Chandra Hutabarat, juga mengingkat pengguna jalan Tol Layang untuk selalu berhati-hati, tidak melakukan pengereman mendadakan, dan memperhatikan batas kecepatan yang telah dituntukan.

"Ditengarai pengendara kendaraan pertama melakukan pengereman mendadak yang mengakibatkan kendaraan belakang kurang antisipasi dan tidak sempat menghindar sehingga mengakibatkan terjadinya kecelakaan yang melibatkan lima kendaraan," ucap Chandra.

"Pengguna jalan baiknya mematuhi rambu dan arahan petugas, pastikan dalam kondisi prima dan tidak lelah atau mengantuk. Patuhi kecepatan maksimal dan minimal, yakni 60 kpj dan 80 kpj," katanya.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved