Berita Surabaya
Dosen Ubhara Temukan Cara Olah Labu Kuning Jadi Tepung Bergizi, Diklaim Pertama di Indonesia
Buah labu kuning pada umumnya merupakan jenis tanaman sayuran yang dapat dimanfaatkan menjadi berbagai jenis makanan.
Penulis: Zainal Arif | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Buah labu kuning pada umumnya merupakan jenis tanaman sayuran yang dapat dimanfaatkan menjadi berbagai jenis makanan.
Siapa sangka buah yang sering digunakan menjadi bahan kolak saat Ramadan ini ternyata dapat diproses menjadi sebuah tepung labu kuning yang sangat bergizi.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bhayangkara Surabaya (Ubhara) Dr. Haryono, SE., M.Si menemukan cara memprosesnya lewat program yang ia gagas, yaitu Sentra Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK).
Pemenuan ini diklaim yang pertama di Indonesia. Proses tersebut dilakukan didalam sebuah kontainer yang memiliki panjang 16 Meter dan lebar 3 Meter. Dengan menggunakan alat portebel seperti Grenda, SIicer, dan Oven.
Alat Grenda digunakan untuk memotong buah labu menjadi kecil-kecil, kemudian alat SIicer digunakan untuk mengiris buah menjadi lebih tipis (ketebalan 1 ml) lalu dimasukan kedalam alat spinner sampai mengeluarkan air. Kemudian dikeringkan melalui oven portabel selama 24 jam dengan suhu 60° Celcius.
Setelah kering, labu kemudian digiling (Diskmill) hingga menjadi tepung labu kuning yang dapat digunakan sebagai pengganti tepung tapioka. Sementara seluruh proses produksi Haryono menggunakan Solar Sell sebagai penggerak alat portabelnya.
"Tepung labu kuning, lebih bisa melembutkan makanan ketimbang tepung tapioka pada umumnya, kue akan lebih terasa lebih lumer," ujar Alumni S3 Ilmu Pertanian Universitas Brawijaya Malang ini.
Menurut pernyataan Haryono setelah bekerjasama dengan Indah Epriliati dosen Universitas Widya Mandala Surabaya, tepung labu tersebut telah lolos uji secara klinis lewat laboratorium teknologi pangan Universitas Widya Mandala Surabaya.
"Tepung ini baik digunakan karena memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap yakni karbohidrat, protein, dan vitamin-vitamin, untuk mencegah diabetes dan mencegah stunting (gizi buruk) pada anak," terang bapak dua anak ini.
Inovasi ini diciptakan oleh Haryono untuk membantu para petani agar dapat memiliki pendapatan yang layak. Lewat teknologi ini Haryono mampu memperpanjang usia labu.
"Saya prihatin dengan nasib para petani yang saat panen buah labu harganya jatuh karena saat bulan ramadhan saja buah ini dicari, kemana surplus produksinya? Karena kebanyakan buah labu digunakan untuk pakan sapi," ujarnya.
Dengan inovasi ini, Haryono berharap dirinya dapat bermitra dengan para petani yang memiliki lahan hutan seperti Banyuwangi, Bojonegoro, Ngawi, Nganjuk, dan lain-lain.
"Lewat dana desa masyarakat seharusnya dapat menggerakkan ekonomi dengan pengolahan buah labu menjadi tepung ini sehingga nantinya ada peningkatan pendapatan," katanya.
Melihat peluang potensial ini, pria kelahiran Surabaya, 28 Juli 1966 ingin mensosialisasikan penggunaan alat tersebut dengan mengundang para kepala desa agar dapat diterapkan ditempatnya masing-masing guna memberdayakan para petani.
"Lewat teman-teman Fakultas Hukum nantinya akan membuatkan Legal Darfting dengan melakukan sebuah perjanjian jual beli dengan petani lewat badan usaha milik desa yang nantinya mereka akan sebagai pemasok dan kami juga memberikan kepastian harga agar dapat menjamin penghasilan mereka (para petani)," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/labu-kuning-dr-haryono-se-msi-dosen-universitas-bhayangkara-surabaya.jpg)