Sambang Kampung

Warga RW 4 Perumahan ITS Surabaya Tanam Bawang Merah Organik, Gunakan Sistem Akuaponik

Warga Perumahan ITS Surabaya membudidayakan bawah merah dengan pola akuaponik, yakni mengkombinasikan antara akuakultur dan hidroponik.

Penulis: Christine Ayu Nurchayanti | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Christine Ayu Nurchayanti
Sie Kebersihan dan Lingkungan Hidup RW 4 Perumahan ITS Surabaya, Agus Gunaryo saat menunjukkan hasil panen bawang merah organik miliknya. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Bawang merah merupakan salah satu bahan pokok kebutuhan rumah tangga yang banyak digunakan.

Sayangnya banyak bawang merah yang dibudidayakan dengan menggunakan produk kimia, baik pupuk maupun pestisida.

Hal ini menggerakkan warga RW 4 Perumahan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk mulai menanam bawang merah sendiri di rumah.

"Bawang merah merupakan bahan pokok kebutuhan rumah tangga. Hampir semua masakan membutuhkan bawang merah," ungkap Sie Kebersihan dan Lingkungan Hidup RW 4 Perumahan ITS Surabaya, Agus Gunaryo, Senin (19/10/2020) kemarin.

Di samping itu, hal ini juga berangkat dari keprihatinan terhadap pola tanam bawang merah yang menggunakan obat-obatan kimiawi untuk mematikan hama.

"Kami menanamnya secara organik. Benar-benar murni tanpa obat sehingga lebih sehat, tidak pakai pestisida atau obat kimia berbahaya," ungkap Agus.

Menariknya, ia membudidayakannya dengan pola akuaponik, yakni mengkombinasikan antara akuakultur dan hidroponik.

"Kami beri nama pola tanam bawang merah organik 07 atau Bamor 07. Jadi pada bagian atas untuk tanam bawang merah sedangkan di bawahnya untuk budidaya ikan," terangnya.

Dengan menggunakan pola ini, Agus mengatakan tanaman ini bisa dibudidayakan di mana saja.

"Bahkan saya bermimpi setiap rumah punya. Panennya setiap 70 hari sekali. Pertama kali tanam, saya pakai bibit satu kilogram dengan hasil panen memcapai 9,6 kilogram," terang Agus.

Jika setiap rumah membudidayakannya sendiri, otomatis akan bisa mengurangi biaya rumah tangga. Paling penting tentu lebih sehat untuk dikonsumsi.

"Ikannya juga bisa dikonsumsi. Jadi kalau dikembangkan akan bagus sekali," imbuh Agus.

Sementara untuk tempat tanamnya, ia menggunakan talang plastik dengan lubang-lubang sebagai penyerapan air dan untuk mencukupi kebutuhan oksigen tanaman.

"Konstruksi tempat tanam sangat mudah dikerjakan dan bisa dari bahan apa saja yang penting kuat untuk menyangga beban tanam sekaligus beban kolam ikan," terangnya.

Sementara untuk media tanamnya menggunakan tanah dicampur pupuk kompos organik, ditambah lempung dari selokan.
Menariknya, media tanamnya reusable atau bisa digunakan kembali.

"Kalau dengan tanah tandus kan harus merombak tanah menjadi subur yang membutuhkan waktu ekstra. Berbeda dengan pola seperti ini yang lebih mudah," Agus mengatakan.

Dengan hasil panen yang sudah terlihat dan menjanjikan, lanjut Agus, pihaknya berharap Bamor 07 bisa diterapkan oleh siapa saja dan di mana saja, termasuk daerah tandus.

"Home urban farming menjawab kebutuhan sehari-hari keluarga dengan mudah dan menyenangkan, serta menjaga hidup keluarga. Lingkungan pun menjadi lebih bersih menyehatkan," tandasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved