Breaking News:

Berita Malang Raya

Keranjingan Bagi-Bagi Nasi Bungkus, Dua Warga asal Malang Raih Simpati Mancanegara

keduanya menggagas komunitas Food Sharing Indonesia (FSI), sebuah organisasi nirlaba yang menampung bantuan dari berbagai donatur.

surya/erwin wicaksono
Aksi bagi-bagi makanan gratis sedang digandrungi oleh anak muda di Malang. Seperti halnya yang dilakukan Dian Ayu Antika Hapsari bersama rekannya Shella Alamry. 

SURYA.CO.ID, MALANG - Aksi bagi-bagi makanan gratis sedang digandrungi kalangan anak muda di Malang. Seperti yang juga dilakukan Dian Ayu Antika Hapsari bersama rekannya Shella Alamry, kegiatan berbagi makanan seperti sudah menjadi hobi yang membuat keduanya harus 'menembus batas.'

Karena aksi sosial kedua perempuan tersebut selama masa pandemi Covid-19, mengundang simpati pada donator. Ada yang menyumbang dari Libya dan Australia.

"Selama masa pandemi Covid-19 begini, banyak orang susah makin susah. Dan kami diberikan kelancaran rejeki. Jadi mengapa tidak membantu orang lain yang terkena dampak? Masa hidup hanya sekadar hidup," terang Dian Ayu alias Tika ketika dikonfirmasi, Minggu (4/10/2020).

Karena motivasi tersebut, keduanya menggagas komunitas Food Sharing Indonesia (FSI), sebuah organisasi nirlaba yang menampung bantuan dari berbagai donatur. Uang hasil donasi akan digunakan untuk membeli makanan lalu dibagikan kepada warga yang membutuhkan.

Dan14 Agustus 2020 lalu menjadi momen bersejarah bagi FSI. Saat itu gerakan membagikan nasi bungkus gratis itu mulai dilakukan. "Pada praktiknya tidak hanya bagi nasi. Tetapi juga ada santunan kepada anak yatim, memberi sembako ke yayasan," beber Tika.

Pegawai honorer Pemkab Malang ini menyatakan bahwa aksi sosial yang digalangnya semakin berkembang. "Awalnya mau pakai duit sendiri tetapi ternyata antusiasme orang positif," terang mantan wartawan ini.

Bahkan Tika menerangkan donatur saat ini melebar hingga luar negeri. "Alhamdulillah sampai sekarang dana masuk lebih dari 10 juta. Donatur ada dari Australia dan Libya," imbuh Tika.

Wanita asal Sukun Kota Malang ini mengatakan, ia bersama FSI hanya mengandalkan modal sosial guna meraih donatur. "Donatur saat ini terbanyak dari Australia. Dari WNI yang tinggal di sana," tutur Tika.

Kini FSI bisa melakukan aksi sosial seminggu sekali. Wilayahnya menyasar ke Kota Malang hingga Kabupaten Malang. "Setiap Minggu minimal membagikan 50 bungkus nasi. Permah melebihi ekspektasi kami. Kemarin malah 210 bungkus nasi," jelas Tika.

Menurut Tika, publikasi dalam sebuah aksi sosial adalah hal penting. Alasan utamanya adalah transparansi. "Dipublikasikan, transparasi informasi. Aku tahu, donatur semua percaya sama kami. Jadi kami menjaga kepercayaan mereka dengan posting gambar tersebut," tegas Tika.

Terakhir, Tika menerangkan mayoritas donatur menolak ditampilkan nilai donasinya. "Namun nama mereka tidak ditampilkan atas permintaan mereka," tutup gadis kelahiran tahun 1991 itu. ***

Penulis: Erwin Wicaksono
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved