Breaking News:

Berita Tuban

Hari Batik Nasional, Menguji Ketahanan Canting di Tuban Saat Masa Pandemi Covid-19

Momen pilkada menjadi solusi agar usaha batik tetap berjalan, pasar pun diperkecil hanya dengan menjual batik kain biasa, bukan lagi gedog.

Penulis: M. Sudarsono
Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/M Sudarsono
Aktivitas membatik di rumah produksi batik Dodot Iro di Desa Margomulyo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jumat (2/10/2020). 

Membuat pola sama halnya dengan menggambar, saat gambar sudah di atas kain maka tinggal membubuhkan cairan lilin dari canting.

"Yang susah membuat pola, lumayan rumit. Setelah proses batik selesai ada proses lagi pewarnaan hingga akhirnya pelunturan lalu proses akhir penjemuran," bebernya menceritakan kesulitan proses membatik.

Sementara itu, pemilik Rumah Batik Dodot Iro, Sri Widodo (50) menyatakan, situasi pandemi covid-19 ini sangat memukul dunia usaha batik.

Bukan lagi persentase turun, tapi sudah pakai istilah terjun bebas karena pasar sudah mati, dengan ditutup atau dibatasinya sektor pariwisata.

Pekerja pun diberlakukan freelance, kain diambil dibawa pulang untuk dibatik sewaktu-waktu, jika sudah jadi bisa diserahkan. Sedangkan untuk uang yang didapat pekerja, sesuai dengan sedikit banyaknya hasil membatik.

"Kami punya pasar khusus batik tenun gedog di Jakarta dan Bali, tapi situasi covid-19 ini sangat memukul bagi bisnis batik, kami berhenti produksi untuk tenun gedog," keluhnya.

Untuk tetap bisa bertahan dan eksis meski di tengah wabah, pria yang sudah sekitar 13 tahun menggeluti usaha batik itu harus tetap memutar otak agar roda ekonomi tetap berjalan meski tidak semulus sebelumnya.

Momen pilkada menjadi solusi agar usaha batik tetap berjalan, pasar pun diperkecil hanya dengan menjual batik kain biasa, bukan lagi gedog.

Baginya meski produksi tidak sebanyak dulu, namun dengan produksi ala kadarnya sudah cukup untuk disyukuri, mengingat saat ini hampir semua kegiatan perekonomian terpuruk.

"Saya masuk pasar pilkada agar roda ekonomi tetap berjalan, menawarkan produk batik kepada para calon bupati-calon wakil bupati. Alhamdulillah ada yang berminat," pungkasnya.

Sekadar diketahui, di rumah produksi Dodot Iro untuk harga batik tenun gedog berkisar mulai Rp 300 ribu-Rp 2,5 juta, dengan ukuran 3 meter kali 85 cm. Sedangkan untuk batik biasa mulai Rp 150 ribu-1,5 juta, ukuran 2 meter kali 1,5 meter.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved