Breaking News:

Berita Lamongan

Berkat Masker, Perajin Batik Lamongan Bertahan Hidup Selama Pandemi

Produksi utama seperti kain batik, baju batik, berbagai jenis dan ukuran tas batik, berbalik menjadi produksi kedua

Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Deddy Humana
surya/hanif manshuri
Model dan motif batik yang menjadi bahan masker di salah satu rumah UMKM Batik di Lamongan. 

Nurhayati tidak seorang diri memproduksi masker, tetapi bekerja sama dengan UKM. "Standarnya harus sesuai keinginan saya. Harus sesuai SNI," katanya.

Masker batik produksi Nurhayati dipasarkan secara online dengan harga beragam, mulai Rp 20.000 hingga Rp 200.000 tergantung kualitas bahan, motif batik dan kerumitannya.

Kalau batik tulis dengan bagian motifnya yang bagus, seperti ada motif wayang atau unik, harganya bisa sampau Rp 150.000, bahkan hingga Rp 200.000. Karena batik memiliki filosofi dan keindahan."Kalau motif yang pinggir-pinggir, itu beda lagi harganya, lebih murah," kata Nurhayati.

Nurhayati mengungkapkan, konsumen masker produksinya tidak hanya dari Lamongan, tetapi juga banyak yang dari luar kota, seperti Bandung, Jakarta dan Malang. "Pemasarannya meluas, karena kita bermain di online," katanya.

Kondisi serupa dialami pemilik usaha batik Cahaya Utama, Sifwatir Rif'ah asal Desa Sendangagung, Kecamatan Paciran. Siwa mengaku bersyukur bisa bertahan di masa pandemi Covid -19 karena masker.

"Alhamdulillah bisa bertahan dengan memproduksi masker batik, meskipun belum bisa meng-cover penjualan seperti biasanya," kata Sifwa.

Diakui Sifwa, Covid-19 membuat pemasaran batik produksinya merosot hingga 70 persen dibandingkan kondisi normal. Bahkan penjualan offline pernah anjlok sampai 90 persen, akibatnya stok barang menumpuk, jumlah karyawan juga dikurangi.

"Sekarang hanya mengandalkan penjualan masker batik serta pesanan seragam batik, " kata Sifwa yang juga dosen di salah satu PTS di Lamongan ini. ***

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved