Breaking News:

Berita Jatim dan Surabaya Hari Ini Populer: Cara Risma Tangani Covid-19, Pria Pilih Hukuman Penjara

Berikut berita Jatim dan Surabaya hari ini. Cara Ridma tangani pasien lansia Covid-19 dan pria di Gresik pilih penjara karena tak bisa bayar denda.

Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Adrianus Adhi
Kolase Zaimul Haq-SURYA.co.id/Sugiyono-SURYA.co.id
Ilustrasi - Berita Jatim dan Surabaya Hari Ini Populer: Cara Risma Tangani Covid-19, Pria Pilih Hukuman Penjara 

Penulis: Pipit | Editor: Adrianus Adhi

SURYA.co.id - Berita Jatim dan Surabaya hari ini populer Selasa. (29/9/2020), di antaranya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sedang mencari tahu dengan cara tracking, kenapa 30 persen pasien Virus Corona atau Covid-19 di Surabaya adalah lansia.

Risma mengatakan padahal potensi interaksi lansia dengan dunia luar sangat sedikit.

Selanjutnya kabar pria paruh baya di Gresik yang memilih dipenjara, karena tak bisa membayar denda melanggar protokoler kesehatan.

Pria tersebut diketahui didenda 100 ribu, karena tak menggunakan masker saat duduk di warung kopi.

Berikut berita Jatim dan Surabaya hari ini populer selengkapnya.

1. Risma Tracking Penyebab 30 Persen Pasien Covid-19 Lanjut Usia

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini saat ditemui di rumah dinasnya Jalan Sedap Malam Surabaya, Jumat (28/8/2020).
Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini saat ditemui di rumah dinasnya Jalan Sedap Malam Surabaya, Jumat (28/8/2020). (SURYA.CO.ID/Ahmad Zaimul Haq)

Data yang dihimpun Dinas Kesehatan kota Surabaya, dari seluruh pasien covid-19 di Surabaya, sebesar 30 persennya adalah kelompok lanjut usia. 

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini menyebut saat ini pihaknya terus melakukan tracing melalui Puskesmas di Surabaya untuk mengetahui dari mana mereka terpapar.

"Saya masih coba cari tahu dari mana mereka tertular karena kalau dilihat dari usia segitu, mereka relatif kecil kalau pergi-pergi keluar rumah," kata Risma, Senin (28/9/2020).

Pemkot saat ini tengah mengambil langkah agar imunitas para lansia tetap dapat terjaga. Mereka mendapat vitamin secara gratis dari Pemkot.

Melalui Puskesmas dan Posyandu Lansia, pemberian pulse oximeter (alat pengukur kadar oksigen) juga dilakukan.

"Puskesmas menyiapkan vitamin yang bisa didapatkan gratis untuk para lansia, di Puskesmas maupun melalui Posyandu lansia," terang Wali Kota perempuan pertama di Surabaya itu.

Selain lansia, saat ini di Surabaya pemuda yang terpapar Covid-19 juga terbilang tinggi. Dari data Dinas Kesehatan presentasenya mencapai 30 persen.

Risma mengingatkan agar mewaspadai penularan yang bisa saja terjadi di lingkungan keluarga. Dia berpesan sedapat mungkin menggunakan peralatan pribadi untuk diri sendiri.

Kemudian, Risma juga meminta agar disiplin protokol kesehatan tetap diperhatikan betul. Hal itu termasuk ketika bersosial ditengah masyarakat.

"Sekali lagi saya mohon, untuk mempercepat memutus mata rantai pandemi ini kita harus disiplin dalam kehidupan sehari-hari," terang Risma.

2. Tertangkap Razia Tak Pakai Masker, Pria Gresik Ini Pilih Hukuman Penjara Karena Tak Punya Uang

Abdul Amin memilih hukuman penjara saat sidang tipiring di Pengadilan Negeri Gresik, Jumat (25/9/2020).
Abdul Amin memilih hukuman penjara saat sidang tipiring di Pengadilan Negeri Gresik, Jumat (25/9/2020). (surya.co.id/sugiyono)

Abdul Amin (50), warga Desa Ambeng-ambeng Watangrejo, Kecamatan Duduksampean, memilih dipenjara saat sidang di tempat penegakan hukum protokol kesehatan covid-19 di Pengadilan Negeri Gresik, Jumat (25/9/2020).

Alasannya memilih hukuman penjara karena tidak mempunyai uang dan pekerjaaan sepi.

Hakim Pengadilan Negeri Gresik Fitra Dewi Nsutiplon, memutuskan terdakwa Abdul Amin dihukum denda Rp 100.000 dan jika tidak dibayar digantikan dengan hukuman penjara selama tiga hari.

"Hukuman saudara yaitu membayar denda Rp 100.000 dan jika tidak dibayar dikenakan hukuman kurungan selama tiga hari. Kami memberikan keringanan, tapi bapak harus mentaati protokol kesehatan. Selalu memakai masker," kata Fitra.

Mendengar putusan itu, Abdul Amin memilih hukuman badan, sebab tidak ada uang untuk membayar denda.

"Untuk bayar kos saja saya tidak ada. Saya mencicil membayar tempat kos. Kerjaan jadi makelar tanah sepi akibat corona," kata Amin, yang mengaku telah cerai dengan istri dan mempunyai dua anak.

Lebih lanjut Amin mengatakan, jika ditahan akan mudah untuk mendapat makan.

"Lumayan ditahan, dikasih makan. Di tempat kos juga harus beli makan sendiri. Saat pekerjaan tidak ada seperti ini apa yang buat membeli makan," imbuhnya.

Amin terjaring razia saat tidak memakai masker pada 23 September 2020, pukul 22.30 WIB.

Saat itu sedang ngopi di warung kopi depan Masjid Agung Gresik, Jalan Mayjend Sungkono, Kecamatan Kebomas.

Kemudian, pihak penegak hukum menyita barang bukti berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Dari penyitaan jaminan tersebut, Amin harus menjalani sidang tidak pidana ringan (Tipiring).

Dalam sidang tipiring tersebut, sedikitnya ada 50 orang lebih terjaring razia tidak memakai masker oleh tim gabungan penegak Peraturan Bupati (Perbup) nomor 22 tahun 2020 tentang pedoman masa transisi menuju tatanan baru.

Melihat Abdul Amin yang mengaku tidak punya uang dan tidak punya pekerjaan, akhirnya pegawai Pengadilan Negeri Gresik membantunya dengan membayar biaya denda sebesar Rp 100.000.

Atas bantuan tersebut, Amin mengatakan sangat berterima kasih.

"Terima kasih pak. Saya tidak jadi menjalani hukuman penjara," kata Amin dengan senang hati (Yusron Naufal Putra/Sugiyono/Pipit Maulidiya/TribunJatim.com/Surya.co.id)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved