Rabu, 22 April 2026

Berita Malang Raya

UMKM di Malang Masih Hadapi Tantangan Standarisasi Produk dan Keuangan

Sisi negatifnya, pemerintah kadang tidak mendapatkan data para pelaku industri kecil itu karena keberlangsungannya informal.

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Deddy Humana
surya/sylvianita widyawati
Bupati Malang, Muhammad Sanusi membawa lukisan bordir Mbah Maimun, ulama terkenal karya pembordir asal Lawang, Samsuddin (sebelah bupati). Karya itu dibeli Rp 1 juta usai membuka workshop UMKM Kabupaten Malang di Unisma, Minggu (20/9/2020). 

SURYA.CO.ID, MALANG - Potensi ekonomi yang ditopang pergerakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Malang, termasuk luar biasa seandainya digarap dan diolah dengan serius. Persoalannya, pelaku UMKM masih menghadapi tantangan bersaing dari sisi standarisasi produk dan pengelolaan manajemen keuangannya.

Hal itu disampaikan Jeni Susyanti, Ketua Pelaksana Workshop Kewirausahaan di Era Digital bagi UMKM di Kabupaten Malang di Universitas Islam Malang (Unisma), Minggu (20/9/2020).

Jeni mencontohkan daun jeruk purut yang bisa diolah menjadi sirup, diapresiasi Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa. "Biasanya daun jeruk purut dibuat apa?" tanyanya ke peserta.

Ada yang memjawab untuk bumbu pecel. Padahal sirup jeruk purut belum ada yang membuat. Tinggal bagaimana memasarkan produknya.

Dijelaskan Kepala Pusat Pengembangan Kewirausahaan dan Inkubator Bisnis (P2IB) Unisma ini, di era digital, UMKM bisa memanfaatkan Youtube. Jika banyak subscriber-nya, maka bisa mendapat penghasilan.

Di satu sisi, kelemahan di IKM (Industri Kecil Mikro) adalah belum banyak mendapat legalitas. Sisi negatifnya adalah, pemerintah kadang tidak mendapatkan data para pelaku industri kecil itu karena keberlangsungannya informal.

Jeni juga berpesan agar produk yang dihasilkan UKMK memiliki SOP. Sehingga hasilnya bisa standar. Misalkan ada produk yang dibuat suami istri, tetapi kualitas beda. Untuk produk original antara buatan suami atau istri berbeda, begitu juga citarasa kopi.

"Jadi harus ada SOP agar kualitasnya sama. Serta melaksanakan prinsip manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian dan kontroling," ujar Jeni.

Dijelaskan Jeni pula, kelemahan UMKM adalah pada manajemen keuangan. Sebab dari modal sendiri dan akhirnya dipakai sendiri. "Jika ingin usaha berjalan, maka keuangan harus dipisah dan dda pencatatan. Boleh saja pemasukan diambil, tetapi dalam bentuk sebagai gaji. Sehingga tidak campur aduk," papar dosen FEB Unisma itu.

Dalam workshop itu, karya lukisan dari bordir manual di atas kain blacu mendapat perhatian khusus dari Bupati Malang, Muhammad Sanusi. Usai membuka workshop itu, Sanusi tertarik dengan bordir bergambar Mbah Moen atau almarhum Maimoen Zubair.

Lukisan itu adalah karya pembordir Lawang, Samsuddin. "Harganya Rp 650.000. Tapi dibeli Pak Bupati Rp 1 Juta," jelas Samsuddin.

Pameran yang diikuti 132 pelaku UMKM dari berbagai kecamatan itu menampilkan produk makanan, kerajinan tangan, sepatu dll.

Sementara Rektor Unisma Prof Dr Maskuri MSi menjelaskan, kegiatan workshop dengan Pemkab Malang itu sebagai implementasi kerjasama setelah ada pengembangan jagung di Singosari.

"Nanti kami ingin membantu meningkatkan susu sapi perah dan padi. Dengan progran Kampus Merdeka-Merdeka Belajar", maka diperlukan banyak kerjasama termasuk dengan pemerintah dan UMKM," tandasnya. ***

Sumber: Surya Malang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved