Breaking News:

Berita Malang Raya

PSBB di Malang Bikin Masyarakat Down, Lebih Tepat Terapkan Phyisical Distancing

Arbani menduga ada perubahan psikologis dari masyarakat, kalau PSBB kembali diterapkan di Malang

SURYA.CO.ID, MALANG - Penerapan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar alias PSBB sebagai cara menekan bertambahnya kembali kasus Covid-19 seperti di Jakarta, belakangan terdengar di Kabupaten Malang. Wacana PSBB itu justru dianggap kurang tepat karena secara mental malah membuat masyarakat down alias tertekan.

Pendapat itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang, dg Arbani Mukti Wibowo ketika ditanya efektifitas pembelakuan PSBB di Kabupaten Malang. "Tidak perlu. Nanti (masyarakat) kesulitan," ujar Arbani, Minggu (20/9/2020).

Arbani menegaskan itu bukan tanpa alasan. Ia menduga ada perubahan psikologis dari masyarakat, kalau PSBB kembali diterapkan. "Karena (PSBB) membuat psikologis masyarakat menjadi down (menurun)," tegas Arbani.

Ia juga memperkirakan bahwa tidak hanya dari sisi psikologi, PSBB juga akan berdampak dari sisi ekonomi. "Kemudian ekonomi tidak jalan. Itulah yang kita takutkan," ungkap Arbani.

Menurut Arbani, ada banyak cara yang dinilai tepat guna mencegah penularan Covid-19. Salah satunya adalah penerapan physical distancing karena selama ini masyarakat sering lengah terhadap imbauan jaga jarak.

Seperti yang tetap dilakukan adalah kebiasaan makan bersama. "Kebiasaan makan bareng di kantor itulah yang rawan penularan Covid-19. Begitu juga makan di warung. Kalau beli makanan di warung, sebisa mungkin dibawa pulang," terang Arbani.

Untuk itu, Arbani meminta masyarakat menerapkan protokol kesehatan jika tidak ingin terpapar Covid-19. Arbani juga mengkritisi pemakaian masker scuba yang dinilai tidak memberikan proteksi berarti.

Alhasil, Arbani lebih menyarankan masyarakat memakai masker medis. Meski memakai masker merupakan hal yang wajib, Arbani menekankan kebiasaan tersebut harus dibarengi physical distancing.

"Yang direkomendasikan adalah masker medis. Masker kain bisa juga tetapi harus tiga lapis. Karena kalau satu lapis tidak bagus," beber Arbani.

Terakhir, Arbani menyatakan jika alat polymerase chain reaction (PCR) sudah dioperasikan di Kabupaten Malang tepatnya di RSUD Kanjuruhan. "Karena masih baru jadi SOP-nya sudah dibuat namun belum bisa maksimal. Tenaganya juga shift jadi hanya bisa satu running, kurang lebih 96 sampel," tutup Arbani. ****

Penulis: Erwin Wicaksono
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved