Breaking News:

Berita Ngawi

Alfamart Buka Peluang Kerjasama dengan Pelaku UMKM di Ngawi

Sinergi dengan UMKM merupakan komitmen perusahaan dengan para pelaku UMKM lokal yang sejalan dengan visi perusahaan

surya/rahardian bagus p
Kegiatan Pelatihan pengelolaan manajemen usaha kecil bersama Alfamart di Ngawi, Kamis (17/9/2020). 

SURYA.CO.ID, NGAWI - Berdasarkan data Dinas Perdagangan Kabupaten Ngawi, dari 1.450 jenis Industri Kecil Menengah (IKM), baru sebagian kecil yang masuk ke ritel modern. Hal ini mendorong Alfamart membuka peluang bagi IKM dan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) di Ngawi untuk berkembang.

"Sesuai dengan visi Alfmart, kami ingin tumbuh dan berkembang bersama pedagang kecil. Kami ingin tumbuh bersama-sama pedagang kecil dan retail modern," kata Regional Corporate Comunication Alfamart, Muchammad Faruq Asrori, Kamis (17/9/2020) siang.

Faruq mengatakan, peritel seperti Alfamart terbuka bagi produk lokal untuk dipasarkan lewat jaringan gerai yang dimiliki. Sinergi dengan UMKM merupakan komitmen perusahaan dengan para pelaku UMKM lokal yang sejalan dengan visi perusahaan, yakni berorientasi pada pemberdayaan pengusaha kecil.

Hanya, khusus untuk pemasaran produk UMKM lokal harus ada rekomendasi pemerintah daerah (pemda) melalui dinas terkait yakni Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi (Disperindagkop) dan UKM.

“Tentu ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi seperti izin PIRT, sertifikat halal, dan lainnya. Kami berharap semakin banyak para pelaku UMKM yang dapat meningkatkan kualitasnya sehingga lebih bersaing,” jelasnya.

Menurut Faruq, Alfamart selama ini menyambut baik kebijakan pemda dalam upaya meningkatkan jangkauan pemasaran produk UMKM. Di antaranya dengan memberikan tempat khusus bagi produk UMKM yang telah mendapat pembinaan dari dinas setempat.

Branch Alfamart Rembang, Supriyanto mengatakan, saat ini ada sekitar 50 jenis produk UMKM yang telah dipasarkan. Selain menyediakan tempat pemasaran, pihaknya juga melakukan pendampingan produksi UMKM agar sesuai ketentuan dan minat konsumen.

“Produk UMKM kita sebenarnya bagus-bagus, hanya saja sejumlah kendala seperti perizinan dan pengemasan (packaging) perlu terus dibenahi lagi,” ujarnya.

Ditambahkan, produk UMKM selama ini kesulitan untuk bersaing karena belum memiliki perizinan. Seperti dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan lain-lain. Meskipun sebenarnya produk UMKM tidak kalah dengan produksi industri.

“Karena terkendala perizinan, kami bekerjasama dengan pemda untuk mencari solusi terkait masalah tersebut. Termasuk menyeleksi produk UMKM agar dapat dipasarkan di toko kami,” imbuhnya.

Halaman
12
Penulis: Rahadian Bagus
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved