Breaking News:

Berita Sampang

Harga Cabai Rawit Terjun Bebas, Petani di Sampang Babati Tanamannya

Harga jual di pasaran tidak sesuai biaya operasional yang dikeluarkan, mulai membeli bibit, pemberian pupuk, dan sebagainya.

surya/hanggara pratama
Rahman (45), petani asal Dusun Ngorbungor Desa Tragih, Kecamatan Robatal Sampang sedang memotong tanaman cabe miliknya, Selasa (15/9/2020). 

SURYA.CO.ID, SAMPANG - Puncak masa panen cabai rawit bulan ini tampaknya belum membawa kesejahteraan kepada petani yang menanamnya.

Bagaimana tidak, sekarang harga cabai rawit benar-benar terjun bebas alias sangat murah di pasaran, sehingga para petani memilih membabat habis tanaman cabainya agar tidak merugi terlalu besar.

Pantauan di pasar dan keterangan sejumlah petani, harga cabai rawit memang mengenaskan. Komoditas yang biasanya selalu mahal itu, kini hanya dihargai Rp 3.000 sampai Rp 5.000 per KG, dari harga standar Rp 40.000. Perbedaan harga yang sangat ekstrem dan melukai perasaan para petani.

Rahman (45), petani cabai asal Dusun Ngorbungor Desa Tragih Kecamatan Robata mengatakan, pada musim kali ini pihaknya memang mengalami kerugian.

Harga jual di pasaran tidak sesuai biaya operasional yang dikeluarkan, mulai membeli bibit, pemberian pupuk, dan sebagainya.

"Harga pasaran sangat anjlok dibandingkan musim sebelumnya. Hanya berkisar Rp 3.000 sampai Rp. 5.000 per KG, padahal biasanya Rp 40.000 per KG," kata Rahman kepada TribunMadura.com, Selasa (15/9/2020).

Rahman menambahkan, untuk membudidayakan cabai rawit ia mengeluarkan modal sekitar Rp 20 juta untuk luas lahan sekitar 1 hektare lebih. Kemudian membutuhkan waktu penanaman satu sampai tiga bulan dan melakukan panen setiap satu minggu sekali.

"Berhubung harga tidak sesuai biaya pengeluarannya, saya memilih memotong semua pohon cabai dan akan menggantinya dengan pohon semangka," ungkapnya.

Ia mengaku tidak mengetahui pasti penyebab harga cabai rawit di pasaran menjadi sangat murah. "Saya juga kaget saat menjual hasil tani kemarin, tiba-tiba harganya anjlok," ucapnya.

Sementara Plt Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagprin) Sampang, Abd Hannan membenarkan harga cabai rawit murah ketika berada di puncak musim panen. Sehingga,jumlah cabai rawit melimpah dan tidak sesuai permintaan masyarakat yang sedikit.

"Hal ini sama dengan harga gula kemarin. Harga gula sempat naik karena langk di pasaran, tetapi panen cabai ini sebaliknya" ujar Hannan.

Dengan stok melimpah itu maka yang berlaku hukum pasar. Dan Hannan mengingatkan petani mengenai keteraturan penanam pohon cabai. Artinya, para petani harus bisa menyesuaikan penanaman jenis tanaman di setiap musimnya.

"Jadi para petani menyesuaikan, sekarang musim apa dan kalau hendak menanam harus melihat kebutuhan masyarakat," pungkasnya. (HANGGARA PRATAMA)

Editor: Deddy Humana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved