Breaking News:

Berita Surabaya

Dibalik Viralnya Mbak Bulan, Wisuda Offline dan Online Unitomo Diapresiasi L2Dikti

wisuda Offline dan Online yang digelar Unitomo Surabaya diapresiasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2Dikti) Wilayah VII Jawa Timur.

ist
Rektor Unitomo saat prosesi wisuda di Dyandra Convention Center. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Di balik viralnya aksi Dhanar Jabro Febiansah atau biasa dipanggil Mbak Bulan yang menarikan lagu Blackpink di sela prosesi wisuda Universitas Dr Soetomo (Unitomo) pada 13 September 2020, wisuda Offline dan Online tersebut diapresiasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2Dikti) Wilayah VII Jawa Timur.

Pasalnya dari 1.311 lulusan program D3, S1 dan S2 Unitomo diwisuda secara bertahap yaitu pada Sabtu dan Minggu (12-13/9/2020) di Dyandra Convention Center.

Namun, tidak semua hadir di lokasi acara, hanya 1.059 lulusan yang diwisuda secara fisik dalam dua hari. Sementar 272 lulusan lainnya mengikutinya secara online atau daring.

Ketua L2Dikti Wilayah VII Jawa Timur, Prof Soeprapto yang Hadir di sesi 1 hari pertama, serta sesi ke 1 hari ke dua menyampaikan apresiasi atas langkah Unitomo menggelar wisuda baik secara online maupun offline untuk mengakomodasi keinginan para calon wisudawan.

"Ini langkah berani, dan harus dieksekusi secara hati-hati dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat. Dan saya lihat Unitomo berhasil melakukannya. Menurut saya, ini perlu dicontoh oleh kampus-kampus lain, karena kebanyakan hanya menggelar wisuda secara online, atau offline tapi hanya diikuti oleh wisudawan tertentu, biasanya yang berprestasi saja sebagai perwakilan", ujar Soeprapto.

Sementara itu, dalam sambutannya, Rektor Unitomo Bachrul Amiq mewanti-wanti seluruh wisudawan, juga panitia yang terlibat dalam mempersiapkan acara wisuda ini untuk selalu menjalankan protokol kesehatan di mana pun berada.

"Sebenarnya, lebih mudah bagi saya untuk memutuskan menggelar acara wisuda ini secara online, seperti dilakukan banyak kampus lain. Tapi karena banyak juga calon wisudawan meminta agar momen penting ini bisa tetap terselenggara secara offline,"lanjutnya.

Apalagi sebagai peristiwa sekali seumur hidup, maka akhirnya diputuskan untuk menggelarnya secara offlline dan online bersamaan. Oleh karena itu saya minta panitia untuk benar-benar mempersiapkannya dengan baik.

"Yang online kami laksanakan dengan memanfaatkan aplikasi zoom, sedang yang offline kita laksanakan dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Kita semua tentu tidak ingin muncul kluster Covid baru dari acara wisuda", ujar Amiq.

Ketua Panitia, Siti Marwiyah, mengungkapkan agar tidak terjadi kerumunan saat menjelang, saat acara, dan saat pulangnya undangan maka protokol kesehatan diterapkan dengan ketat.

"Tiap sesi kami batasi maksimal hanya dihadiri 800 - 900 undangan, jauh dari kapasitas normal gedung sekitar 3.000 orang. Selain itu ada jeda selama 3 jam dari sesi 1 ke sesi 2, untuk sterilisasi ulang menjelang sesi ke 2. Serta menghindarkan kemungkinan bertumpuknya arus undangan yang keluar dan masuk," ujar Siti Marwiyah, yang juga menjabat sebagai wakil rektor I Unitomo ini.

Dengan jumlah undangan yang dibatasi secara ketat. Ada pula larangan bagi anak kecil dan orang tua berusia lanjut untuk hadir, serta syarat menunjukkan surat keterangan hasil rapid test non reaktif.

"Melaksanakan wisuda di era new normal memang menuntut kita untuk melakukan banyak penyesuaian. Bukan hanya gedung yang meski ber-AC tapi kami minta tetap dibuka semua pintunya untuk menjaga sirkulasi,"lanjutnya.

Selain itu, upacara wisuda juga diubah total. Diantaranya seusai prosesi pemindahan kuncir toga oleh rektor, yang tanpa diiringi jabat tangan seperti biasanya, wisudawan langsung pulang beserta orangtuanya, tanpa harus menunggu acara selesai.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved