Breaking News:

Pemprov Jatim

Bupati Magetan Suprawoto Ajak MOI Jatim Perangi Berita Hoax

Bupati Magetan, Suprawoto bersama Media Online Indonesia (MOI) Jatim mengajak para awak media untuk memerangi berita hoax maupun radikal.

Foto: diskominfo jatim
Bupati Magetan Suprawoto (dua dari kiri) bersama Media Online Indonesia (MOI) Jatim dalam Diskusi Publik di Gedung Putra Nirwana Magetan, Sabtu (12/9/2020). 

SURYA.co.id | MAGETAN - Bupati Magetan, Suprawoto bersama Media Online Indonesia (MOI) Jatim mengajak para awak media baik cetak, elektronik maupun online untuk memerangi berita hoax maupun radikal.

Suprawoto mengatakan Hoax atau kabar bohong terus melanda masyarakat seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi.

Berita hoax dianggap bahaya karena dapat menimbulkan perpecahan dan sejumlah dampak negatif lainnya.

“Oleh karena itu, pemerintah pun menggalakkan kampanye kepada masyarakat untuk memerangi hoax. Bahkan mengimbau masyarakat untuk tidak membaca berita hoax,” ujarnya saat Diskusi Publik di Gedung Putra Nirwana Magetan, Sabtu (12/9/2020).

Suprawoto, yang dikenal sebagai mantan Kepala Dinas Infokom era Gubernur Jatim Imam Utomo dan mantan pejabat di Kementerian Kominfo mengungkapkan, bahwa sewaktu dirinya berada di Kementerian Kominfo berhasil melahirkan Undang-Undang ITE (Informasi Transaksi Elektronik).

"Undang Undang ITE itu dibuat dengan tujuan agar setiap warga negara bisa menghargai harkat dan martabat warga negara yang lain, karena bila tidak di buat sanksi hukum , maka setiap orang bisa seenaknya sendiri memberikan informasi lewat dunia maya, terutma di medsos," terang Suprawoto.

Ketua MOI Jatim, Agung Santoso, mengungkapkan, media cetak, media elektronika (Tv/Radio), maupun media online sama-sama mempunyai tujuan mencari, mengolah, menyajikan berita yang mencerdaskan bangsa. Semua bisa dicapai jika setiap media memegang kuat UU Pers, Kode Etik Jurnalistik, sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh berita yang bernuansa hoax dan radikal.

"Sebelum kita menilai berita hoax dan radikal, sebagai awak media yang terdiri pemimpin redaksi, dewan redaksi, redaktur dan ujung tombak media adalah wartawan harus memberi contoh dengan penyajian berita yang sesuai data dan fakta di lapangan, tidak di pelintir, artinya di kurangi dan ditambahi apalagi di tambah opini dengan menggiring pembaca untuk tujuan tertentu," kata Agung.

Diskusi publik yang membahas tentang media online dalam menangkal berita hoax dan radikal ini dihadiri Bupati Magetan, Suprawoto, Kepala Dinas Kominfo, Saif Muhclisun, Kepala Bakesbangpol Iswahyudi Yulianto, Ikatan Jurnalis Magetan, Ikatan Wartawan Magetan, PWI Magetan dan para jurnalis dari Trenggalek.(ern/s)

Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved