Selasa, 9 Juni 2026

Berita Malang

Konsep Pengendalian Banjir Tiga Mahasiswi UB Malang Bisa Kurangi Banjir 72 Persen

Prinsip IWSM adalah mengisi kembali air tanah dengan tujuan menanggulangi banjir saat musim hujan. Serta memberikan suplai air baku saat musim kemarau

Tayang:
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Deddy Humana
surya/sylvianita widyawati
Tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) menggagas pengendalian banjir dan konservasi air di perkotaan dengan konsep IWSM (Integrated Water System Management). 

SURYA.CO.ID, MALANG - Genangan di wilayah bergunung seperti Kota Malang dulu jarang ditemukan, tetapi selama beberapa tahun malah rajin kebanjiran saat musim hujan. Kondisi itu menjadi tantangan untuk tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) untuk membuat konsep pengendalian banjir dan konservasi air di perkotaan.

Konsep yang disusun dari penelitian dan eksperimennya adalah IWSM (Integrated Water System Management) atau Pengelolaan Sistem Pengairan Terpadu. Penerapan berskala kecil bisa dilakukan di perumahan, baru dijajaki ke wilayah kota dan lebih luas, yaitu kota-kota di Indonesia.

Kalau sistem IWSM diterapkan, maka dapat mereduksi banjir sebesar 72 persen khusus di Kota Malang dan dapat memberikan suplai air baku sebanyak 3,36 meter kubik.

Tentunya, penerapan IWSM memerlukan peran pemerintah daerah yang dimulai desa/kelurahan. Tim mahasiswa UB adalah Yosi Asterina Maharani, Anggie Aqidahtun Nisa, dan Syifa Allifa Utrujjah.

Skemanya, IWSM ini terdiri dari lima bangunan sederhana yaitu sumur resapan, ABSAH (Aquifer Buatan Simpanan Air Hujan), lubang resapan biopori, ruang terbuka hijau skala rumahan. Tidak lupa menyertakan IPAL (instalasi pengolahan air limbah) dengan konstruksi weltand.

Gagasan ini mendapat pendanaan Kemendikbud lewat Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Futuristik Konstruktif (PKM-GFK).

"Prinsip IWSM adalah upaya mengisi kembali air tanah dengan tujuan menanggulangi banjir saat musim hujan. Serta memberikan suplai air baku saat musim kemarau. IWSM juga berguna untuk meningkatkan kualitas air buangan," jelas Yosi, ketua Tim mahasiswa UB, Minggu (13/9/2020).

Secara sederhana, cara kerja IWSM adalah, semula air hujan yang turun di atap rumah akan dialirkan melalui talang ke ABSAH. Di ABSAH, air mengalami filterisasi filter alami untuk menghilangkan komponen pengotor. Air yang sudah dapat dipompa untuk digunakan sebagai air baku.

"Kalau air pada tampungan ABSAH penuh, maka air akan melimpah ke sumur resapan sebagai recharge dan perbaikan kualitas air tanah," tambahnya.

Untuk air hujan yang jatuh ke halaman, akan diikat oleh ruang terbuka hijau yang ditanami bambu kuning yang dapat menyerap air. Sisa limpahan akan mengalir ke lubang resapan biopori.

Untuk memperbaiki kualitas air limbah rumah tangga, maka harus memakai IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) komunal dengan konstruksi wetland. Tanaman yang digunakan untuk menyaring di IPAL adalah tanaman Lily Air (Sagittaria montevindensis) dan Bunga Tasbih (Canna sp).

Dari penelitian-penelitian sebelumnya, dua jenis tanaman itu dapat mereduksi kadar COD (Chemical Oxygen Demand) dan kadar fosfat dalam limbah.

Kalau sistem IWSM diterapkan, maka dapat mereduksi banjir sebesar 72 persen dan dapat memberikan suplai air baku sebanyak 3,36 meter kubik. Penerapan IWSM di daerah perkotaan akan turut mendukung 6 dari 17 poin Sustainable Development Goals (SDGs) PBB.

Adapun poin utamanya adalah Sustainable Cities and Communities, dan lima poin lain adalah Good Health and Well, Clean Water and Sanitation, Industry Innovation and Infrastructure, Climate Action, dan Life on Land.

Jika di daerah perumahan sudah diterapkan, maka bisa ditawarkan pembentukan stakeholder terkait yaitu FPRB (Forum Penanggulangan Resiko Bencana) yang bertujuan mengontrol dan mengevaluasi penerapan IWSM. Termasuk di dalamnya adalah kegiatan seperti pelatihan, simulasi, sosialisasi, serta lomba RT tangguh.

Pilot project dari eksperimen ketiga mahasiswi ini adalah Kota Malang yang mengalami kekurangan area resapan air sebagaimana kota-kota lain. Penyebabnya, telah terjadi peralihan fungsi lahan karena pertumbuhan penduduk sehingga drainase tak mampu lagi menampung kelebihan air. ***

Sumber: Surya Malang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved