Breaking News:

Berita Banyuwangi

Masih Berbahaya, Limbah Medis Covid-19 Klaster Pesantren Banyuwangi Harus Ditangani Khusus

Pemkab Banyuwangi melakukan penanganan khusus limbah selama aktivitas di klaster Covid-19 salah satu pondok pesantren (ponpes) di Banyuwangi

surya/haorrahman
Petugas DLH Banyuwangi mengambil limbah B3 ini mengenakan pakaian APD lengkap. 

SURYA.CO.ID, BANYUWANGI - Ancaman penyebaran virus Corona (Covid-19) tidak hanya berasal dari kontak antarmanusia, tetapi juga dari limbah medis bekas penanganan pasien terpapar.

Untuk itu, Pemkab Banyuwangi melakukan penanganan khusus terhadap limbah selama aktivitas di klaster Covid-19 salah satu pondok pesantren (ponpes) di Banyuwangi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi, Husnul Khotimah mengatakan, penanganan sampah dan limbah yang dihasilkan selama masa karantina ponpes itu, ditangani secara khusus untuk menghindari penyebaran virus.

“DLH mendapat tugas untuk menangani sampah dan limbah yang dihasilkan selama karantina, baik dari para santri di dalam ponpes, aktivitas tenaga kesehatan, hingga para relawan di dapur umum,” ujar Husnul, Senin (7/9/2020).

Husnul mengatakan limbah yang ditangani terdiri dari limbah padat dan cair. Limbah padat terbagi lagi menjadi limbah padat rumah tangga dan limbah padat berbahaya atau biasa disebut limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun).

“Untuk limbah padat rumah tangga adalah sampah yang dihasilkan oleh dapur umum seperti sisa bahan bahan masak, kertas, kantung plastik, dan sebagainya. Sampah ini diambil setiap hari oleh petugas dan dibawa ke TPA. Dalam sehari, jumlahnya bisa mencapai satu kontainer atau 8 meter kubik,” ujar Husnul.

Selanjutnya limbah padat B3 dihasilkan oleh aktivitas tenaga medis contohnya masker, APD, sarung tangan dan sebagainya. Selain itu limbah yang dihasilkan oleh aktivitas santri juga termasuk dikategorikan limbah B3.

“Limbah yang dihasilkan para santri contohnya sampah domestik serta kotak makan dan sisa makanan di dalamnya. Limbah ini kami kategorikan B3 karena berpotensi terpapar virus Covid-19 dari para santri yang saat ini dikarantina,” terang Husnul.

Petugas yang bertugas mengambil limbah B3, mengenakan pakaian APD lengkap. Sampai saat ini sebanyak 6.000 santri baik yang positif maupun negatif berada di dalam pondok.

Mereka mendapatkan jatah makan dari dapur umum nasi kotak tiga kali sehari. Semua sampah kotak makan dan sisa makanan tersebut termasuk dikelola sebagai limbah B3.

Untuk semua limbah B3 tersebut, lanjut Husnul, pihak DLH melakukan pengelolaan khusus. Di mana DLH menggandeng pihak ketiga yang memiliki sertifikasi untuk pengelolaan limbah B3 dari Kementrian Kesehatan (Kemenkes).

“Kami menggandeng pihak ketiga karena Banyuwangi belum memiliki alat insinerator 800 derajat untuk mengelola limbah B3. Limbah B3 wajib diolah dengan alat tersebut untuk menghindari penyebaran penyakit maupun unsur berbahaya dari limbah tersebut,” terangnya.

Selain limbah padat, DLH juga mengelola limbah cair yakni limbah yang dihasilkan dari toilet umum portable yang disediakan bagi relawan di dapur umum maupun bagi petugas kesehatan. “Limbah ini juga diambil setiap hari oleh petugas kami,” tambah Husnul. ***

Penulis: Haorrahman
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved