Breaking News:

Citizen Reporter

Sumber Daya Alam Menipis, Andalkan Budaya untuk Pengembangan Ekonomi, Paparan Guru Besar FIB UNJ

Praktik pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya telah dipraktikannya dalam serangkaian penelitian Novi Anoegrajekti di Banyuwangi.

surya.co.id/haorrahman
Foto ilustrasi: Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur mengajak generasi milenial kembali menghijaukan kawasan konservasi. 

SURYA.co.id | Ekonomi kreatif yang digagas beberapa tahun ini memiliki implikasi luas. Para pelaku dituntut untuk selalu menemukan cara agar roda ekonomi terus bergerak dengan memanfaatkan potensi alam, sumber daya manusia, dan industri.

Praktik pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya telah dipraktikannya dalam serangkaian penelitian Novi Anoegrajekti di Banyuwangi.

Pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya menjadi signifikan karena ekonomi yang mengandalkan sumber daya alam akan semakin menipis.

“Sementara itu, pengembangan industri besar seperti neofordisme yang memerlukan modal besar berpotensi meningkatkan devisa secara signifikan, akan tetapi cenderung tidak menjangkau kesejahteraan masyarakat lapisan bawah,” kata Novi, Selasa (1/9/2020).

Dalam pandangan guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Jakarta (FIB UNJ), sastra, seni, dan tradisi berpotensi ditranformasikan menjadi beragam produk industri kreatif.

Ia mencontohkan tari gandrung Banyuwangi yang bertransformasi menjadi lukisan, novel, taman, dan tari gambyong menjadi lukisan, fesyen, dan desain uang Rp 5.000. Mantra “Jaran Goyang” bertransformasi menjadi tari, lagu, merek kopi, dan desain T-Shirt.

Paparan itu disampaikannya dalam Seminar dalam jaringan bertema “Budaya dan Industri Kreatif pada Sastra, Seni, dan Tradisi”, Senin (31/8/2020).

Ia menunjukkan, pengembangan ekonomi kreatif di negara-negara Eropa terbukti berkontribusi besar terhadap devisa negara.

Itu menginspirasi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia mendorong pengembangan ekonomi kreatif.

Dekan FBS, Liliana Muliastuti, berharap kajian mengenai budaya dan ekonomi kreatif tidak berhenti untuk terus menggali dan mengimplementasikan sebagai proses hilirisasi riset yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Itu dapat dimulai dari penelitian-penelitian yang dipublikasikan.

Halaman
12
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved