Breaking News:

Berita Banyuwangi

Merdeka Belajar Sekolah-Sekolah di Banyuwangi, Bebaskan Guru dan Murid Berkreasi

Program Merdeka Belajar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, akan merombak metode pendidikan yang selama ini terkesan hanya satu arah

SURYA.CO.ID/Haorrahman
Siswa Banyuwangi Islamic School saat belajar di ruang terbuka. Mereka bebas menentukan metode pembelajaran yang menyenangkan. 

Program Merdeka Belajar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, akan merombak metode pendidikan yang selama ini terkesan hanya satu arah.

SURYA.CO.ID, BANYUWANGI - Di Banyuwangi terdapat Sekolah Sayur, Banyuwangi Islamic School (BIS). Dijuluki Sekolah Sayur karena sekolah setingkat Sekolah Dasar (SD)-Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini muridnya bebas membayar biaya pendidikan.

Bebas dalam artian orang tua bisa membayar uang sekolah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Bagi yang hanya mampu membayar sayur, bisa membayar dengan sayuran. Bagi yang memang tidak bisa membayar uang sekolah digratiskan.

Guru dan siswa di sekolah yang berada di Genteng Kulon, diberi kebebasan untuk membuat dan menentukan metode pembelajaran yang mereka inginkan dan menyenangkan.

"Siswa lebih banyak belajar di tempat terbuka. Secara berkelompok mereka bebas mencari tempat sendiri yang menurut mereka nyaman," kata Muhammad Farid, pendiri Sekolah Sayur.

Dipandu guru aktivitas pembelajaran anak-anak lebih banyak outdoor activity, seperti field study, home travel, reward, outbond, tadabbur alam, pembudayaan amaliah dan aktivitas di luar kelas lainnya.

Siswa Banyuwangi Islamic School saat belajar di ruang terbuka. Mereka bebas menentukan metode pembelajaran yang menyenangkan.
Siswa Banyuwangi Islamic School saat belajar di ruang terbuka. Mereka bebas menentukan metode pembelajaran yang menyenangkan. (SURYA.CO.ID/Haorrahman)

Di pembelajaran outdoor activity itu diselipkan mata pelajaran formal. Untuk mengasah kemampuan bahasa, siswa di sekolah ini menggunakan bahasa pengantar Inggris dan Arab.

”Di sekolah kami guru sifatnya lebih pada pendampingan dan evaluator," kata pria berusia 40 tahun itu.

Farid mengatakan pembelajaran di sekolahnya menggunakan pendekatan multiple intelegence, contextual learning, penunjang life skill, jiwa entrepreneurship, akselerasi dan pembelajaran multimedia.

Halaman
1234
Penulis: Haorrahman
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved