Breaking News:

Berita Blitar

Olah Sendiri Kopi Robusta, Petani di Blitar Kuasai Jawa Sampai Bali

Tetapi di dusun jauh itulah, Imam menapaki kebangkitannya dari semula buruh kebun kopi menjadi pengusaha kopi dengan penghasilan Rp 4 juta per hari.

Penulis: Imam Taufiq | Editor: Deddy Humana
Olah Sendiri Kopi Robusta, Petani di Blitar Kuasai Jawa Sampai Bali - petani-kopi-blitar-1.jpg
surya/imam taufiq
Pekerja pengolahan kopi robusta menjemur kopi yang baru dipanen di halaman rumah Imam Ghozali, warga Dusun Klakah, Desa Sidorejo, Kecamatan Doko yang sukses menjadi pengusaha kopi, Jumat (21/8/2020).
Olah Sendiri Kopi Robusta, Petani di Blitar Kuasai Jawa Sampai Bali - petani-kopi-blitar-2.jpg
surya/imam taufiq
Kemasan kopi robusta hasil olahan Imam Ghozali, warga pelosok Blitar yang sukses menembus banyak daerah.

"Ini disukai para pecinta kopi, khususnya orang yang tak bisa tidur sore," tutur suami Dwi Wira Sapitri ini.

Begitu masuk ke dalam rumahnya, terlihat kopi kering siap diolah di dekat mesin giling dan mesin penyangrai kopi (roaster). Itu dibeli baru setahun lalu, setelah beberapa tahun ia menggunakan cara manual.

"Dulu saya mengorengnya dengan tungku. Namun karena permintaan kian banyak, kami beli alatnya karena setiap 12 menit sekali, kami harus menghasilkan 2 KG kopi yang sudah digoreng," tutur pria yang penampilannya cukup sederhana.

Karena itu saat ini ia mampu melayani permintaan kopi bubuk 2 sampai 3 kuintal per hari. Ditambah ia sudah memiliki empat karyawan yang semuanya perempuan. Tugasnya adalah menjemur dan mengepak kopi yang siap dipasarkan. Imam sendiri khusus bagian penggorengan.

"Pelanggan kami kebanyakan dari Bali, Surabaya, Gresik, Jogyakarta, Kalimantan. Semuanya adalah pemilik kafe atau kedai kopi. Untuk kedai kopi di Kota Blitar dan sekitarnya, hampir setiap hari kami suplai," paparnya yang mengaku pendapatan berkisar antara Rp 4 juta sampai Rp 6 juta per hari.

Sekarang Imam bisa menguasai banyak kota di Jawa dan menembus Bali. Padahal tiga tahun lalu, ia mengaku hampir putus asa selama berkeliling memasarkan kopinya. "Saya tawarkan ke kedai kopi, warung kopi, namun tak ada merespon," ungkapnya.

Dan puncak kesuksesannya memasarkan kopinya adalah ketika menerjuni media sosial (medsos). Dengan cepat permintaan membanjir dari berbagai kota. "Dari hasil berjualan kopi ini, kami belikan tegalan lag, buat memperluas lahan kopi," paparnya.

Ia nekat memproduksi kopi karena punya keyakinan bahwa ke depan, usaha kopi ini punya prospek bagus. "Dari usaha ini, kami bisa menampung kopi hasil panen tetangga. Sebab dulu hanya terjual murah dan kini kami beli Rp 5.000 per KG harga tegalan, yang masih basah," paparnya. ***

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved