Breaking News:

Berita Blitar

Olah Sendiri Kopi Robusta, Petani di Blitar Kuasai Jawa Sampai Bali

Tetapi di dusun jauh itulah, Imam menapaki kebangkitannya dari semula buruh kebun kopi menjadi pengusaha kopi dengan penghasilan Rp 4 juta per hari.

Olah Sendiri Kopi Robusta, Petani di Blitar Kuasai Jawa Sampai Bali - petani-kopi-blitar-1.jpg
surya/imam taufiq
Pekerja pengolahan kopi robusta menjemur kopi yang baru dipanen di halaman rumah Imam Ghozali, warga Dusun Klakah, Desa Sidorejo, Kecamatan Doko yang sukses menjadi pengusaha kopi, Jumat (21/8/2020).
Olah Sendiri Kopi Robusta, Petani di Blitar Kuasai Jawa Sampai Bali - petani-kopi-blitar-2.jpg
surya/imam taufiq
Kemasan kopi robusta hasil olahan Imam Ghozali, warga pelosok Blitar yang sukses menembus banyak daerah.

Menjadi buruh tani di perkebunan kopi di pelosok Kabupaten Blitar, membuat Imam Ghozali (34) bosan. Tekadnya merubah nasib begitu besar, sehingga ia nekat mengolah sendiri kopi hasil panen dan memasarkannya. Kerja kerasnya berbuah, Imam kini menjadi pengusaha kopi robusta.

Kalau menemukan kemasan kopi robusta murni bermerek 'Takasih', bisa dipastikan itu adalah merek milik Imam Ghozali, buah home industry dari Dusun Klakah, Desa Sidorejo, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar.

Dari dusun terpencil itulah, Imam merajut asa dari kopi. Dusun itu berada di ujung Kecamatan Doko, yang berbatasan dengan lereng Gunung Kawi, di wilayah Kabupaten Malang. Sangat terpencil, dengan akses jalan nyaris hancur dan belasan kilometer tanpa lampu penerangan.

Tetapi di dusun yang jauh itulah, Imam menapaki kebangkitannya dari semula buruh kebun kopi menjadi pengusaha kopi dengan penghasilan sekitar Rp 4 juta per hari.

Setidaknya ada dua hal yang membuat Imam menerjuni bisnis kopi. Pertama, tidak mau menjadi permainan tengkulak dalam harga jual kopi, apalagi ia waktu itu hanya buruh tani.

Kedua, Imam melihat bahwa celah bisnis dari perkopian tidak pernah tertutup. Kebiasaan orang Indonesia ngopi, bukan lagi menjadi pembunuh waktu tetapi kebutuhan. Selalu ada ide dari secangkir kopi.

Akhirnya terbukti. Kopi dari hasil lahannya seluas 1,5 hektare (Ha) bisa mengubah nasib hidup keluarganya. Itu setelah Imam mengolah kopi bubuk sendiri di rumahnya, dengan hasil sekitar 1 kuintal per hari dan nilainya Rp 6 juta.

Itu belum terpotong biaya apapun, seperti transportasi, kecuali biaya produksi saja. Halaman rumahnya sekitar 400 meter per segi setiap hari dipakai menjemur kopi yang baru dipanen. Sebab sebelum digoreng, kopi harus benar-benar kering supaya cita rasanya kuat dan aromanya menggoda.

"Kopi harus dijemur berbulan-bulan, agar benar-benar kering. Ini jenis kopi robusta," tutur Imam sambil mengambil contoh kopi yang sedang dijemur tersebut.

Kopi robusta punya cita rasa yang khas, di antaranya asam, manis dan gurih. Dan menariknya, meski diseduh tanpa gula pun, rasanya sudah enak. Rasa khas, ada manisnya selalu muncul ketika diseduh air panas.

Halaman
12
Penulis: Imam Taufiq
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved