Berita Bondowoso

Bocah di Bondowoso Jual Gorengan Demi Bisa Beli HP Android dan Bisa Belajar Online

Demi bisa membeli ponsel agar bisa mengikuti pembelajaran daring, seorang siswa SD di Kabupaten Bandowoso keliling berjualan gorengan lalu jadi viral

surabaya.tribunnews.com/danendra kusumawardana
Anggota DPRD Kabupaten Bondowoso Dapil IV, A Mansur MH (paling kanan) mendatangi rumah Detya Tasya Laura Aiska (9) siswi kelas 2 SDN Taman 1 yang berjualan gorengan untuk membeli ponsel, Jumat (21/8). 

SURYA.co.id | BONDOWOSO - Demi bisa membeli ponsel agar bisa mengikuti pembelajaran daring, seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Bandowoso keliling berjualan gorengan. Foto beserta kisah anak tersebut diunggah di Facebook oleh akun Jazuli Ahmad, Rabu (19/8) lalu.

Postingan Jazuli viral di Facebook akun grup Info Warga Bondowoso. Selain itu juga menuai berbagai komentar dari kalangan netizen.

Dari informasi yang didapat, anak tersebut bernama Detya Tasya Laura Aiska (9). Syasa sapaan akrabnya, merupakan siswi kelas 2 SDN Taman 1, Bondowoso.

Kakek Syasa, Karyono mengatakan saat ini sang cucu tinggal bersama dirinya di Desa Taman RT 07 RW 1, Kecamatan Grujugan, Bondowoso. Ia mengasuh Syasa semenjak orangtua Syasa bercerai.

"Ia tinggal bersama saya dan neneknya, Restina. Kedua orang tuanya bercerai sejak usia 2 tahun lalu. Ayahnya warga Situbondo dan ibunya bekerja di Bali," katanya, Jumat (21/8/2020).

Sepengetahuannya, Syasa berjualan gorengan baru beberapa minggu terakhir. Namun, neneknya tak tahu Syasa berjualan gorengan agar bisa membeli ponsel untuk mengikuti pembelajaran daring.

"Syasa terkadang harus meminjam ponsel Android kepada temannya agar bisa mengikuti kegiatan belajar online. Kadang pula ia tak bisa mengikuti belajar online," ujarnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Bondowoso, A Mansur MH mengaku prihatin atas kondisi yang dialami salah seorang warga di Dapilnya (Dapil IV). Ia lantas mendatangi rumah Syasa.

Menurutnya, pasti banyak siswa di Bondowoso tengah kesulitan menghadapi pembelajaran daring karena tak memiliki ponsel maupun akses internet.

"Saya turut prihatin. Ini sekaligus menjadi gambaran bagaimana kondisi siswa di bawah," terangnya.

Ia mengungkapkan, fenomena anak yang kesulitan mengikuti pembelajaran daring, baru mencuat satu, yakni Syasa. Lokasi tempat tinggal Syasa sendiri masih berada dekat dengan jalan raya bukan daerah pinggiran.

"Bagaimana dengan siswa di pinggiran? Pasti banyak siswa yang juga butuh ponsel android, kadang juga tak ada sinyal, seperti di daerah pegunungan. Pasti banyak Syasa yang lain. Yang justru keberadaannya lebih memprihatinkan," ungkapnya.

Selain didatangi dan dapat bantuan dari angggota DPRD, Syasa juga sudah mendapatkan perhatian dari sejumlah pihak serta relawan. Ia mendapat bantuan ponsel dan WiFi gratis.

Kendati begitu, ia berharap pada Pemerintah Kabupaten Bandowoso agar mencari solusi atas permasalahan ini. Pemerintah juga harus hadir agar semua siswa dapat mengikuti pembelajaran daring.

"Misalnya, memasang jaringan internet atau Wi-Fi gratis untuk pelajar. Ataupun dengan cara yang lain agar pembelajaran daring tetap efektif," cetusnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved