Breaking News:

Berita Banyuwangi

Merdeka Belajar Anak-Anak Rimba Kampoeng Batara di Banyuwangi, Anas: Guru Tak Bisa Digantikan Mesin

Mereka disebut anak rimba. Tapi dari mereka kita belajar, tiap anak memiliki hak. Hak untuk merdeka bermain, belajar, berkreasi dan berkembang

SURYA.CO.ID/Haorrahman
Anak-anak rimba Kampoeng Batara bermain dan belajar di tanah lapang. Tiap Minggu atau hari libur sekolah anak-anak rimba ini berkumpul untuk membuat sesuatu yang kreatif. 

Mereka disebut anak rimba. Tapi dari mereka kita belajar, tiap anak memiliki hak. Hak untuk merdeka bermain, belajar, berkreasi, dan berkembang yang tak semua anak memiliki kemerdekaan itu.

SURYA.CO.ID, BANYUWANGI - Ketika terdengar suara musik angklung paglak (alat musik tradisional Banyuwangi terbuat dari bambu dimainkan dengan cara ditabuh) anak-anak di Lingkungan Papring, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dari segala penjuru satu persatu berkumpul di tanah lapang.

Puluhan anak mulai usia 8 hingga 15 tahun berkumpul untuk bermain berbagai jenis permainan tradisional. Egrang, dakon, gobak sodor, engklek, peteng dudu hingga pencak silat. Hampir semua daerah memiliki permainan tradisional ini, hanya namanya yang berbeda-beda.

Permainan ini membutuhkan kerjasama kelompok dan memiliki nilai positif kehidupan sehari-hari, seperti melatih kekompakan, kebersamaan, gotong royong hingga saling menghargai. Permainan yang mungkin tidak lagi banyak dikenali anak-anak masa kini.

Mereka juga bermain musik tradisi mulai dari angklung paglak, kendhang, kethuk dan kempul (gong) lengkap dengan nyanyian dan tari.

Musik tradisi yang mungkin jarang lagi didengar di kota-kota besar.  Musik yang sering dianggap rendah dibandingkan musik populer, mereka justru dengan antusias belajar beragam alat musik itu.

Mereka adalah anak-anak yang tinggal di tepi hutan kaki Gunung Raung.

Mereka tinggal di Kampung yang terletak sekitar 15 kilometer dari Kota Banyuwangi dan berada di ketinggian 1000 meter dari permukaan laut.

Anak-anak di kampung ini disebut anak rimba, karena tiap musim tanam mereka akan berjaga di hutan, agar tanaman mereka tidak dirusak babi hutan. Mereka terbiasa masuk hutan untuk membantu orang tua bercocok tanam.

Penduduk di kampung ini mayoritas petani yang memanfaatkan sistem pertanian tumpang sari di hutan. Itulah yang membuat anak-anak rimba ini telah terbiasa keluar masuk hutan.

Mereka tergabung dalam anak-anak Kampoeng Batara (Kampoeng Baca Taman Rimba). Tempat di mana sekitar 50 anak mulai pra sekolah hingga SMP berkumpul dan bebas menuangkan kreativitas.

Halaman
1234
Penulis: Haorrahman
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved