Breaking News:

Berita Malang Raya

Balas Jasa Pahlawan, Pak Kembang Rela 51 Tahun Rawat Makam Tanpa Dibayar

Jadi mungkin ini upaya Pak Kembang dengan keterbatasan kemampuannya untuk mengisi kemerdekaan, merawat makam para pahlawan bangsa.

surya/erwin wicaksono
Pak Kembang (kanan) bersama cucunya (kiri) ditemui di Taman Makam Pahlawan (TMP) Bahagia Desa Gunung Petung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Keikhlasan menjalani sesuatu meski tanpa kompensasi, sangat jarang ditemukan di zaman sekarang. Sosok Pak Kembang, begitu ia disapa, menjadi sedikit sisa ketekunan manusia di masa lalu yang menjalani profesi mulia, yaitu menjadi penjaga sekaligus perawat Taman Makam Pahlawan (TMP), meski tidak dibayar.

Kalau benar pengakuannya ia lahir tahun 1930, berarti pria asal Kecamatan Turen Kabupaten Malang ini sekarang berusia 90 tahun. Dan selama 51 tahun kerja sosial merawat TMP Bahagia Desa Gunung Petung, Kecamatan Turen, berarti ia memulainya sejak berusia 39 tahun.

Selama setengah abad lebih, Kembang melalui hari-harinya di antara nisan-nisan bisu, saksi terakhir heroisme perjuangan merebut kemerdekaan republik ini. Sekarang kisah heroik itu dilanjutkan Pak Kembang, lewat keikhlasannya merawat makam para pahlawan.

"Dari awal ikhlas tanpa dibayar, syukurlah baru-baru ini dapat bantuan beras dan uang dari Depsos," tutur Kembang usai membersihkan makam, Jumat (14/8/2020).

Motivasi Kembang menjadi penjaga makam karena sosok kiai. "Sejak tahun 1967. Dulu disuruh salah satu kiai. Saat itu sang kiai akan meninggal tetapi generasinya tidak ada yang meneruskan (menjaga makam)," kenang Pak Kembang.

Pak Kembang masih tetap ikhlas, meski saat ini pendapatannya tak menentu. Ia juga tak mendapatkan pendapatan pokok dari Desa Gunung Petung dan Kecamatan Turen. "Bantuan dari desa adalah beras sekali kali. Ya baru-baru ini. Sebelumnya tidak pernah," ungkapnya.

Harapan muncul ketika tahun 2019, Kembang akhirnya mendapat gajiper tiga bulan. Tentu, jumlahnya tidak layak bila dibandingkan pengorbanannya mengabdi sejak puluhan tahun. "Depsos yang memberi. Jumlahnya Rp 750.000 per tiga bulan. Tahun ini 2020 kataya ada Rp 1,2 juta, gak tahu jadi atau tidak," tuturnya.

Tetapi Pak Kembang tak mau pusing, ia malah mengisahkan bagaimana kondisi TMP yang dulu rimbun dengan rumput yang tinggi. "Dulu gak kayak gini. Banyak pohon rimbun. Akhirnya dibersihkan hingga seperti saat ini," bebernya.

Ada 172 makam di TMP Bahagia Turen yang sekarang bersih dan asri. Kembang mengaku senang dengan jerih payahnya merawat makam.  Jadi mungkin ini upaya Pak Kembang dengan keterbatasan kemampuannya untuk mengisi kemerdekaan, merawat makam para pahlawan bangsa.

"Ini bentuk balas jasa saya kepada para pahlawan. Setiap pagi dari sore rutin saya bersihkan. Saya sapu dan cabut rumputnya," terang Pak Kembang.

Komandan Koramil (Danramil) 0818/14 Turen, Kapten Inf Yuyud Hadi Purnomo menerangkan, jasa Pak Kembang sangat berpengaruh terhadap kebersihan makam pahlawan. "Pak Kembang. apapun ceritanya, ia berjasa kepada TMP," ujar Yuyud.

Yuyud terkesan karena selama dirawat Pak Kembang, makam itu bersih sehingga tak ada rumput liar dan semak belukar. "Juga, Pak Kembang ini kategori keluarga ekonomi sangat sederhana," terang Yuyud.

Yuyud menerangkan, yang berwenang memberi gaji adalah Dinas Sosial maupun Desa Gunung Petung. "Kami harap ada perhatian dari semua pihak. Pasalnya jika hanya mengandalkan Koramil, pasti ada batasnya juga. Jadi tugas untuk perawatan atau memberikan honor penjaga makam adalah dinas terkait," ucap Yuyud.  ***

Penulis: Erwin Wicaksono
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved