Breaking News:

Citizen Reporter

Jaringan Organisasi Perlindungan Anak Kolaborasi Riset Pemetaan Pemanfaatan Internet Oleh Anak

Sejumlah organisasi yang bergerak di misi perlindungan anak menggelar survey pemanfaatan internet oleh anak di tengah pandemi. Ini tujuannya.

ist/SCCC
Para pendamping dan aktivis perlindungan anak di SCCC. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Di masa pandemi covid-19 seperti saat ini, anak-anak semakin akrab dengan internet. Apalagi, semua kegiatan belajar dan mengajar harus dilakukan secara daring menggunakan internet.

Hal ini memunculkan risiko anak-anak menjadi korban kejahatan siber, termasuk kejahatan seksual yang dilakukan secara virtual. 

Surabaya Children Crisis Center (SCCC) dan jaringan perlindungan anak Indonesia pun melakukan penelitian tentang pemanfaatan internet oleh anak di masa pandemi Covid-19. Riset ini melibatkan Yayasan Embun Pelangi (YEP) Batam serta Yayasan Bandungwangi dan Yayasan Galang Anak Semesta (Gagas).

Riset ini juga dikomandoi oleh ECPAT Indonesia dan didukung aliansi Down to Zero (DtZ). Sasaran utama dalam Riset ini adalah para pelajar SD-SMA, dengan 50 anak responden di masing masing daerah yang dinaungi oleh lembaga aliansi DtZ. Selain dari Surabaya, pelajar yang jadi responden juga berasal dari Batam, Jakarta, serta Lombok. 

Beberapa pertanyaan yang ada dalam riset ini ditekankan pada peristiwa atau kejadian seksual yang pernah dialami anak selama menggunakan internet saat masa pandemi covid-19.

Koordinator Riset, Safira mengatakan bahwa saat ini kerentanan anak menjadi korban eksploitasi seksual online semakin besar, menginagat aktivitas anak dengan internet menjadi meningkat karena adanya sekolah online dan kondisi pandemi covid-19.

“Di tengah pandemi saat ini, kerentanan anak menjadi sangat tinggi, mengingat kegiatan sekolah semua melalui online dan kurangnya perhtaian orangtua saat anak mengakses internet, ini harus menjadi perhatian lebih bagi pemerintah dan masyarakat terhadap anak-anak,” ujar safira yang merupakan Koordinator Riset dari ECPAT Indonesia

Kegiatan ini dilaksanakan mulai 14 juli 2020 hingga 14 Agustus 2020. Hasil dari riset ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam memetakan masalah yang dialami anak dalam mengakses internet.

“Harapan dalam riset ini mampu memetakan permasalahan anak dalam menggunakan internet dan mampu mendorong pemerintah sehingga dapat melahirkan kebijakan baru yang mampu memberikan payung hukum bagi anak-anak” pungkas Safira .

Penulis: Alif, pendamping dan aktivis perlindungan anak di SCCC.

Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved