Breaking News:

Berita Surabaya

Refleksikan Fenomena Metafisika dalam Karya Tari, Seniman Miftahul Jannah Ciptakan Tari Byalak

Seniman tari alumnus STKW Surabaya, Miftahul Jannah menciptakan tari Byalak yang merupakan representasi fenomena metafisika dalam karya tari

ist
Penampilan karya Tari Byalak koreografi seniman alumnus Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, Miftahul Jannah. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Seniman mempunyai cara sendiri untuk menuangkan gagasan, termasuk dalam merespon sebuah fenomena.

Seperti halnya seniman tari alumnus Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, Miftahul Jannah atau yang akrab disapa Mita.

Besar di Kota Banyuwangi membuatnya akrab dengan fenomena metafisika seperti paraktik-praktik magis. Hal ini pun menggelitiknya untuk menuangkannya ke dalam karya tari.

"Awalnya saya terinspriasi dari nyanyian masa remaja yakni 'Bum tereret Banyuwangi santet, bum tereret...". Ditambah rasa ketertarikan saya dengan fenomena santet," katanya kepada Surya, Rabu (12/8/2020).

Ia juga tertarik terhadap praktik magis pengasihan yang sudah menjadi rahasia umum, tidak hanya di Banyuwangi.

"Byalak tidak hanya bicara setuju atau tidak dengan adanya praktik tersebut, melainkan memberi pandangan lain tentang kesadaran penuh pada laku hidup, apapun itu," ungkap penari kelahiran Probolinggo pada 22 Maret 1995 ini.

Karya Byalak menggunakan objek Tari Gandrung Banyuwangi sebagai olah medium atau eksplorasi gerak.

"Byalak merupakan karya seni interdisipliner. Menggabungkan unsur-unsur seni mulai dari tari, musik, sampai teater. Membentuk gagasan Byalak ini perlu waktu bertahun-tahun," ungkap Mita.

Saat ini, karya Tari Byalak sedang digarap untuk mempromosikan kampus STKW Surabaya, berkolaborasi dengan salah satu kampus seni di Australia.

"Pertama kali Byalak ditampilkan di Sawung Dance Festival Jawa Timur pada 2017, waktu itu namanya Sengsren. Pernah juga ditampilkan di Jakarta dan Banyuwangi di tahun yang sama," ungkapnya.

Sampai pada 8 Agustus 2017, Sengsren diganti Byalak dan ditampilkan sebagai karya tugas akhir kelulusan di STKW Surabaya.

"Nama 'byalak' ini berarti ungkapan atau sikap terbelalak saya terhadap fenomena metafisika, khususnya ilmu pengasihan. Harapannya, penonton juga ikut bilang 'byalak', tergantung presepsi mereka masing-masing," ungkapnya.

Tari Byalak memiliki makna filosofis bahwa setiap laku hidup manusia dilakukan dalam kesadaran penuh yang kelak akan ada pertanggungjawabannya.

"Sampai saat ini, karya Byalak juga sering menjadi kontrol pribadi untuk saya, saat kelewat batas, khilaf, atau berbuat salah dan dosa. Sampai saat ini pun, cara berpikir saya tentang kekaryaan gagasannya tidak jauh dari kegelisahan terkait kesadaran," tandasnya

Penulis: Christine Ayu Nurchayanti
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved