Breaking News:

Berita Gresik

Lawan Polisi, Warga Gresik Protes Pembukaan Bongkar Muat Batu Bara

Ratusan warga nekat memblokir Jalan RE Martadinata menuju pelabuhan bahkan nekat terlibat aksi dorong dengan polisi.

surya/sugiyono
Massa menduduki jalan dekat Polres Gresik. Massa meminta 5 orang temannya segera dipulangkan, Rabu (12/8/2020). 

SURYA.CO.ID, GRESIK - Keputusan pemerintah untuk kembali melakukan aktivitas pembongkarmuatan batu bara dan kayu log, direaksi dengan kemarahan oleh warga di sekitar Pelabuhan Gresik, Rabu (12/8/2020).

Ratusan warga pun memblokir Jalan RE Martadinata, Kecamatan Gresik menuju pelabuhan bahkan nekat terlibat aksi dorong dengan polisi yang mencoba membubarkan mereka.

Dalam aksi itu, warga menolak arahan polisi agar membuka akses jalan. Akibat adu mulut dan saling dorong dengan aparat kepolisian, lima warga diamankan dan dibawa ke Polres Gresik untuk dimintai keterangan.

"Tadi ada lima orang yang dibawa ke Polres Gresik untuk dimintai keterangan. Padahal kami sudah memastikan, tidak ada anarkhisme," kata Lutfi Hilmi, koordinator unjuk rasa.

Aksi unjuk rasa pun memanas, ketika massa menggeruduk Polres Gresik di Jalan Basuki Rahmad. Massa meminta lima rekannya dibebaskan. Massa akhirnya membubarkan diri setelah temannya dipulangkan.

Sedangkan menurut Lutfi, warga memprotes pembukaan kembali bongkar muat khusus batu bara dan kayu log di Pelabuhan Gresik oleh Kementrian Perhubungan (Kemenhub). Bongkar muat itu dipercayakan kepada PT Gresik Jasa Tama (GJT).

Dan injuk rasa terjadi spontan karena warga menolak operasional bongkar muat batu bara. Warga menuntut agar usaha bongkar muat batu bara dihentikan dan direlokasi ke tempat lain, sebab dampak debu batu bara mengotori rumah, air dan cucian pakaian masyarakat sekitar.

"Debu batu bara mengotori permukiman masyarakat dan mengganggu kesehatan. Pemerintah harus melindungi kesehatan masyarakat, seperti saat pandemi sekarang," kata Lutfi.

Hal yang sama juga disampaikan Andre, perwakilan pemuda setempat. Ia mengatakan, masyarakat terkena dampak debu batu bara yang sangat lembut. "Coba diperiksa kesehatan warga, banyak yang paru-parunya hitam akibat diduga menghirup debu batu bara," kata Andre.

Sementara Kapolres Gresik, AKBP Arief Fitrianto mengatakan akan memfasilitasi pertemuan masyarakat yang terdampak batu bara dengan Pelindo dan PT GJT.

Masyarakat juga dipersilakan menyampaikan aspirasinya sesuai prosedur dan ketertiban umum. "Polres akan memfasilitasi mediasi dengan Pelindo, masyarakat dan PT GJT," ujarArief.

General Manager Pelindo III Gresik, Sugiono berdalih bahwa Kemenhub telah menetapkan bongkar muat batu bara curah di Pelabuhan Gresik. Sehingga PT GJT juga harus melakukan produksi bongkar muat batu bara dan kayu log.

"Pelabuhan Gresik adalah pintu masuk ekonomi di Jawa Timur. Pelabuhan ini sudah ditetapkan untuk melayani curah kering. Hari ini pemerintah akan menghidupkan kembali. Termasuk kegiatan bongkar kayu log," kata Sugiono.

Sedangkan Direktur keuangan dan umum PT GJT, Edy Hidayat mengatakan, usaha bongkar muat batu bara sudah diusahakan tidak menimbulkan debu. Seperti menyediakan jaring-jaring, tanda arah angin, penyedot debu dan penyiraman.

"Kami juga memeriksakan baku mutu kelayakan udara. Hasilnya masih di bawah ambang mutu yang ditentukan oleh pemerintah," kata Edy. ***

Penulis: Sugiyono
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved