Pilwali Surabaya 2020
Machfud Arifin Hidupkan Kembali Langgar Bersejarah KH Hasan Gipo
Langgar Gipo adalah satu dari ratusan bangunan yang pernah menjadi saksi sejarah Kota Surabaya.
Penulis: Adrianus Adhi | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Langgar Gipo adalah satu dari ratusan bangunan yang pernah menjadi saksi sejarah Kota Surabaya.
Langgar ini pernah menjadi tempat pemberangkatan jemaah haji asal Surabaya.
Langgar ini menjadi tempat Presiden pertama atau yang saat ini dikenal Ketua Dewan Tanfiziyah pertama Nahdlatul Ulama (NU) yaitu KH. Hasan Gipo, untuk mengaji dan melakukan kegiatan masyarakat.
Tempat bersejarah ini sudah dijadikan bangunan warisan budaya. Sayangnya, hingga saat ini Langgar Gipo mati, luput dari perhatian pembangunan yang diagungkan pemerintah Kota Surabaya.
“Sejak tahun 2018 sudah ditetapkan oleh pemerintah sebagai cagar budaya bahkan sudah disurvei juga tapi sampai saat ini tidak ada realisasinya,” kata Keluarga/Ahli Waris Sagipoddin, Abdul Wahid Zein di Surabaya, Senin (10/8/2020).
Bahkan para ahli waris harus saling bahu membahu mencari bantuan kepada lembaga masyarakat dan tokoh untuk berupaya menghidupkan kembali langgar Gipo.
Kondisinya miris, bangunan dua lantai ini tampak rapuh dan kumuh. Jauh dari kesan bangunan bersejarah.
“Ahli waris akhirnya berjuang mengharapkan dari para tokoh dan komunitas pemerhati sejarah untuk pemugaran,” ungkap Zein yang juga Ketua Umum (Ketum) Ikatan Keluarga Sagipoddin (IKSA).
Lantai yang seharusnya bisa menjadi alas duduk tampak tidak bisa dipakai lantaran rusak dimakan zaman.
Sumur yang menjadi sumber mata air pun tidak terpakai. Tangga yang dibangun pada tahun 1700-an masih tampak orisinil konsep keluarga Sagipodin namun terlihat tampak rapuh.
Namun, sejak Idul Adha 1441 Hijriah kemarin, Langgar Gipo tampak kembali cantik.
Kondisi rumah ibadah berarsitektur kolonial yang dulu memprihatinkan tak mendapat perhatian pemerintah kini tampak kembali hidup.
Pilar-pilar yang tampak berkarat kembali berwarna. Jendela-jendela langgar kembali berfungsi.
Terlihat ada revitalisasi yang dilakukan. Namun tentu, pemugaran tetap menjaga khas sejarah Langgar Gipo.
Zein mengatakan, pemugaran Langgar Gipo bukan dilakukan pemerintah kota. Perbaikan rumah ibadah bersejarah ini disebut ahli waris atas inisiasi Machfud Arifin.
“Alhamdulillah Pak Machfud Arifin banyak membantu kami. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak H. Machfud Arifin atas kepeduliannya pada Langgar Perjuangan Gipo. Pak Machfud Arifin sangat membantu dengan terlibat langsung dalam memperbaiki Langgar Gipo,” ungkap Zein dengan tegas.
Bukan hanya revitalisasi saja, bahkan Machfud Arifin akan menjadikan kawasan sekitar Langgar Gipo menjadi tempat wisata bersejarah.
Inisiatif Machfud Arifin ini merupakan panggilan hati setelah melihat bangunan tersebut tampak tidak terurus.
“Kita ingin tempat bersejarah seperti Langgar Gipo mendapat perhatian. Sayang kalau terbengkalai. Alhamdulillah kami punya tujuan yang sama untuk menghidupkan kembali Langgar Gipo. Bangunan bersejarah ini harus kembali hidup dan mendapat perhatian.” Kata Machfud Arifin.
Sebagai simbolik, Machfud Arifin menjadikan Langgar Gipo tempat penyerahan 226 kurban untuk Idul Adha. Bahkan Machfud Arifin mengurbankan seekor hewan kurban atas nama KH Hasan Gipo.
“Kami serahkan hewan kurban atas nama KH Hasan Gipo. Semoga menjadi berkah,” tutur Cak
Kepedulian Machfud Arifin ini mendapat apresiasi dari keluarga. Bani Sakhifudin ketujuh atau keluarga dari KH. Hasan Gipo, M. Yamin Gipo berharap Machfud Arifin bisa terus memberi perhatian kepada bangunan bersejarah ini.
“Pak Machfud Arifin lah yang membawa perubahan tersebut karena beliau telah terbukti peduli kepada situs sejarah,” pungkas Yamin Gipo.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/langgar-kh-gipo-setelah-renovasi.jpg)