Breaking News:

Kisah Pendampingan Anak

Mengembalikan Senyum Anak Korban Kekerasan Seksual

Masa depan anak korban kekerasan seksual masih panjang. Karena itu, sejak awal mereka membutuhkan pendampingan agar kembali optimis menatap masa depan

ist/bigstock
ilustrasi 

Melihat anak gadisnya berubah, Sumiati mencoba mendekati dan berbicara dari hati-ke hati. Maka berceritalah Yasmin tentang kejadian mengerikan yang ia alami saat mengambil panci itu. Darah ibu Sumiati mendidih mendengar apa yang diceritakan oleh anaknya. Marah, muak, benci, Semua bercampur menjadi satu. Hati orang tua mana yang tidak hancur mendengar kejadian seperti itu?

Sumiati sangat syok atas kejadian yang dialami anaknya. Keluarga yang dalam keseharianya sudah menanggung beban berat itu, kini harus bertambah lagi bebannya.

Percobaan Bunuh Diri

Sumiati yang tinggal di sebuah kos-kosan dengan anak dan suaminya, menggantungkan hidupnya dari berjualan gorengan. Suaminya yang sakit-sakitan sudah tidak mampu lagi mencari nafkah. Ia hanya bisa membantu ibu Sumiati berjualan gorengan. Otomatis ibu Sumiati lah yang menjadi tulang punggung di keluarga.

Penghasilan dari berjualan gorengan hanya cukup untuk makan seadanya dan bayar sewa kos, sehingga Yasmin sempat tidak sekolah selama 2 tahun. Beruntunglah ada sebuah yayasan yang mau membiayai gadis cilik yang selalu mendapat peringkat satu di kelasnya tersebut.

Suami yang sakit-sakitan dan penghasilan yang tidak pasti, menjadi beban tersendiri buat ibu Sumiati. Kini beban itu bertambah ketika buah hatinya bercerita bahwa ia dicabuli oleh penjual es krim yang merupakan teman ibunya sendiri. Apa lagi beberapa bulan setelah kejadian itu pemerintah menyatakan Negara dalam status darurat covid-19, sehingga ibu Sumiati sudah tidak bisa lagi berjualan, otomatis keluarga itu tidak punya sumber penghasilan.

Suami yang sakit-sakitan dan tak mampu bekerja lagi. Anak gadis yang dirudapaksa teman sendiri. Sumber penghasilan yang sudah tidak ada lagi. Lengkap sudah penderitaan keluarga ini.

Cobaan hidup yang sangat berat membuat ibu Sumiati tidak mampu lagi menjalani kehidupan yang menyedihkan ini. Ingin rasanya ia menghindari semua kesengsaraan dengan pergi meninggalkan dunia ini. Ibu Sumiati menikamkan benda tajam ke tubuhnya sebagai jawaban atas kesengsaraan dalam hidupnya. Ia mencoba mengakhiri hidup dengan bunuh diri, untungnya upaya itu gagal.

Pendampingan SCCC

Sumiati akhirnya membawa kasus ini ke jalur hukum dengan melaporkanya ke pihak yang berwenang. Dalam proses yang melelahkan di jalur hukum inilah Sumiati dan keluarganya bertemu dengan tim SCCC (Surabaya Children Crisis Center). Begitu mendapat informasi tentang kasus ini, tim SCCC bergerak cepat merespon informasi yang didapat.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved