Breaking News:

Kisah Pendampingan Anak

Mengembalikan Senyum Anak Korban Kekerasan Seksual

Masa depan anak korban kekerasan seksual masih panjang. Karena itu, sejak awal mereka membutuhkan pendampingan agar kembali optimis menatap masa depan

ist/bigstock
ilustrasi 

Catatan untuk pembaca: Demi melindungi identitas korban, semua nama yang disebutkan dalam artikel ini adalah nama samaran. Apabila ada kesamaan nama, itu semua hanyalah kebetulan.

SURYA.co.id | SURABAYA - Saat itu, pagi menjelang siang di bulan Desember 2019, di sebuah kawasan perumahan Surabaya Timur. Codet, penjual es krim berumur 40-an tahun mendekati Sumiati dan meminjam panci. Sumiati adalah penjual gorengan yang sehari-hari berbagi tempat usaha dengan codet.

Tanpa berfikir panjang, Sumiati menyuruh Codet untuk mengambil di tempat tinggalnya, di sebuah kos-kosan sederhana.
Sumiati yang saat itu ditemani putrinya, Yasmin, meminta Yasmin untuk menemani Codet mengambil panci di tempat tinggalnya.
Sumiati tak tahu apa mengapa pria penjual es krim membutuhkan panci.

Yasmin yang masih berusia 11 tahun hanya menurut saat disuruh ibunya mengambil panci bersama Codet. Dengan menggunakan sepeda motor milik Codet, mereka melaju ke kos-kosan Sumiati.

Sesampainya di kosan yang sepi, Codet melakukan kejahatan seksual terhadap Yasmin.

Anak itu memang sempat berusaha melawan. Namun apa daya, kekuatan Yasmin tidak sepadan dengan Codet.

Setelah melakukan aksi bejatnya, pria penjual es krim itu mengancam Yasmin agar tidak menceritakan kejadian tersebut kepada siapapun.

Panci sudah ia dapatkan. Hasrat seksual sudah ia lampiaskan. Ia dan Yasmin kembali ke tempatnya berjualan. Ibu Sumiati tidak menaruh curiga sedikitpun, ia hanya bertanya pada anaknya: “kenapa kok lama?”

Perubahan Sikap

Seusai kejadian itu, sikap Yasmin mendadak berubah. Anak yang sebelumnya periang dan suka tersenyum kini menjadi pemurung.
Dia bahkan trauma setiap kali mendengar suara mesin penjual es krim keliling. Baginya, suara itu mengingatkan pada kejahatan yang telah dilakukan Condet terhadapnya. Tak hanya itu, selama sekitar 2 minggu ia tidak berani sekolah sendiri dan selalu meminta diantar oleh ibunya.

Halaman
123
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved