Breaking News:
Grahadi

Pemprov Jatim

Turunkan Angka Kematian, Pemprov Jatim Beli 15 Unit HNFC yang Efektif Cegah Kematian Pasien Covid-19

Pemprov Jatim tengah membeli sebanyak 15 unit HNFC untuk dibagikan ke rumah sakit-rumah sakit rujukan penanganan covid-19 di Jawa Timur

SURYA.CO.ID/Fatimatuz Zahro
Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur, dr Joni Wahyuhadi. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Tingginya angka kematian akibat kasus covid-19 di Jawa Timur kembali menjadi sorotan nasional. Pasalnya, kasus kematian kasus covid-19 di Jawa Timur menempati urutan tertinggi secara nasional.

Menanggapi hal tersebut Ketua Rumpun Kuratif Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur yang juga Dirut RSUD Dr Soetomo, Joni Wahyuhadi mengatakan bahwa beberapa pekan ini pihak Pemprov Jatim telah melakukan penelitian mengapa angka kematian kasus covid-19 terbilang tinggi.

"Berdasarkan penelitian kami bersama tim audit terkait kasus kematian pada pasien covid-19 memang ada hasil, bahwa penanganan yang cepat dan tepat menjadi kunci. Jangan sampai pasien mengalami hipoksia akut,” kata Joni, Rabu (5/8/2020).

Kondisi hipoksia adalah kondisi rendahnya kadar oksigen di sel dan jaringan akibat serangan virus SARS-CoV-2.

Kondisi hipoksia tak mesti ditandai langsung dengan sesak nafas. Tapi kondisi ini di awal bisa ditunjukkan dengan gejala gelisah dan tidak tenang atau saturasi oksigen dalam tubuhnya rendah.

“Jadi akhirnya kami berkesimpulan upaya untuk mencegah kematian pasien covid-19 adalah dengan mencegah pasien jangan sampai hipoksia berat,” kata Joni.

Oleh sebab itu pasien terkonfirmasi positif covid-19 yang kondisi gejala sedang, berat maupun sedang tetap harus dilakukan close observation atau observasi ketat.

Ada pasien hipoksia tapi tidak merasa kekurangan oksigen. Dia hanya gelisah tapi ternyata saturasi oksigennya di bawah 80. Padahal yang baik saturasi oksigennya di atas 90. Itulah mengapa pasien covid-19 harus tetap dilakukan observasi seperti dipasangi CCTV saat di rumah sakit.

“Kalau memberat baru kami berikan terapi High Flow Nasal Cannula (HNFC). Kalau sudah hipoksia berat baru masuk ventilator, angka kematiannya tinggi. Di kami angkanya 74,4 persen yang meninggal dalam keadaan hipoksia akut meski sudah diberi ventilator. Tapi untuk pasien covid-19 yang kami berikan HNFC seratus persen hidup. Jika masih berat kami berikan non invasive ventilation (NIV),” ungkap Joni.

Dengan hasil penelitian ini, dikatakan Joni, bahwa pola dalam menangani pasien covid-19 agaknya telah ditemukan.

Halaman
12
Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved