Breaking News:

Berita Blitar

Setelah Didemo Emak-Emak, Penutupan 4 Tambang Pasir Adem Ayem

Entah sudah tahu atau tidak, para penambang tidak beraktivitas saat petugas Satpol PP dan pejabat muspika setempat datang.

surya/imam taufiq
Petugas Satpol PP Kabupaten Blitar mendatangi dan menutup lokasi tambang pasir di aliran Sungai Brantas di Kelurahan Kembangarum, Kecamatan Sutojayan, Senin (3/8/2020). 

SURYA.CO.ID, BLITAR - Aksi emak-emak yang menghadang armada truk pasir yang membawa kerusakan pada jalan desa mereka, membuahkan hasil. Senin (3/8) siang, petugas Satpol PP Kabupaten Blitar bersama pejabat muspika setempat menutup empat lokasi tambang pasir ydi Sungai Brantas.

Keempat lokasi tambang itu semuanya berada di Kelurahan Kembangarum, Kecamatan Sutojayan. Atau berada di sebelah Timur dari Bendungan Serut atau dikenal dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA Serut).

Di lokasi itu sudah lama berlangsung aktivitas penambangan pasir, karena sungainya merupakan aliran dari Gunung Kelud. Setiap hari diperkirakan ada 100 truk yang membeli pasir untuk dijual ke luar daerah.

"Saya pimpin sendiri dan langsung menutup empat lokasi penambangan tersebut. Termasuk peralatannya seperti diesel dan paralon, sudah dibawa ke kantor," kata Kasatpol PP Pemkab Blitar, Rustin Tri Setyobudi kepada Surya.

Menurut Rustin, penutupan paksa dilakukan karena aktivitas penambangan yang berjalan bertahun-tahun itu diduga tak berizin. Selain itu, tambah Rustin, demi menjaga situasi agar kondusif menyusul protes warga Dusun Besole, Desa Darungan, Kecamatan Kademangan, Sabtu (1/8).

"Sebenarnya sebelum ada demo, warga desa sudah memerintahkan untuk ditutup. Namun,baru terlaksana hari ini (kemarin)," ujarnya.

Informasinya, penutupan berlangsung aman dan tak ada perlawanan dari penambang. Sebab entah sudah tahu atau tidak, para penambang tidak melakukan aktivitasnya saat petugas Satpol PP dan pejabat muspika setempat datang.

Padahal dari empat lokasi yang masing-masing berjarak sekitar 100 meter itu, ada sekitar 26 penambang dan kebanyakan adalah warga sekitar.

Menanggapi hal itu, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Blitar, Sugianto, kembali memberi kritik. Menurut Sugiarto, Pemkab Blitar seharusya malu sampai ada aksi protes dari ibu-ibu yang menghadang truk pasir.

Itu menunjukkan kalau pemkab tak tanggap terhadap persoalan warga. Di antaranya, warga sampai menghadang truk akibat jalan desanya sudah lama dibiarkan rusak.

"Kami angkat topi dengan penutupan tambang itu. Namun semestinya, tanpa ada demo dan tanpa protes dari warga, harus ditutup karena tambang itu tak ada izin. Apalagi dampaknya sampai merusak jalan raya karena setiap hari dilindasi truk-truk pasir," tegas Sugiarto.

Ia meminta pemkab segera memperbaiki jalan rusak tersebut, supaya warga ak sampai turun jalan untuk menghadang truk lagi. Ia juga salut dengan ibu-ibu dari Dusun Besole, yang nekat menghadang truk.

Penulis: Imam Taufiq
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved