Viral Fetish Kain Jarik

Soal Fetish Kain Jarik di Surabaya, Psikolog: Dapat Dikategorikan Sebagai Gangguan Mental

Tindakan fetish kain jarik yang melibatkan beberapa korban dengan manipulasi tugas penelitian akademik bisa dikategorikan sebagai pelecehan

Istimewa
Psikologi Klinis dan Forensik Layanan Psikologi Geofira, Riza Wahyuni, S.Psi, MSi, Psikolog. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Kasus mengenai fetish kain jarik oleh mahasiswa PTN di Surabaya yang viral di media sosial dan menjadi trending Twitter merupakan perilaku seksual yang menyimpang.

Hal tersebut disampaikan oleh Psikologi Klinis dan Forensik Layanan Psikologi Geofira, Riza Wahyuni S.Psi, MSi, Psikolog.

Ia mengatakan, fetish merupakan ambisi/ketertarikan seseorang ketika melihat suatu objek sehingga menimbulkan rangsangan seksual.

"Meskipun objek yang dilihatnya adalah hal-hal yang biasa bagi orang lain," kata Riza Wahyuni, Jumat (31/7/2020).

Menurutnya, fetish sebenarnya dapat dianggap sebagai perilaku yang normal dan tidak normal. Tergantung bagaimana konteks fetish tersebut dan seperti apa respons orang yang terlibat.

"Sebenarnya fetish ini memiliki dua sisi, bisa normal dan tidak. Dikatakan normal jika dilakukan pada pasangan yang menyetujui tindakan fetish tersebut. Dan menjadi tidak normal jika menimbulkan kerugian bagi orang lain. Seperti kasus fetish kain jarik yang lagi ramai," urainya.

Perempuan yang akrab disapa Riza itu menjelaskan, kasus yang tengah viral di media sosial mengenai fetish kain jarik dapat dikategorikan sebagai gangguan mental. Karena, sudah mengganggu banyak pihak dan merugikan pihak lain.

"Kasus fetish kain jarik ini kan memunculkan banyak korban. Perilaku bisa disebut sebagai gangguan mental jika sudah mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain," jelas Riza.

Menurutnya, tindakan fetish kain jarik yang melibatkan beberapa korban dengan manipulasi tugas penelitian akademik bisa dikategorikan sebagai pelecehan. Di mana, korbannya dililit kain jarik dan lakban kemudian didokumentasikan menjadi foto atau video.

"Bisa dikatakan sebagai pelecehan seksual itu karena ketika korban dililit jarik si pelaku menikmati hal tersebut sebagai fetishnya. Bisa juga kena permasalahan pornografi karena dia mendokumentasikannya dalam foto/video," Riza menjelaskan.

Halaman
123
Penulis: Luthfi Husnika
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved