Breaking News:

Timnas Indonesia

Indra Sjafri Ungkap Penyebab Kegagalan Pemain Muda di Level Senior

Indra Shafri mengungkap penyebab pemian muda yang gagal tampil dengan performa terbaiknya saat berada di usia senior.

PSSI
Direktur Teknik PSSI, Indra Sjafri saat menjadi pelatih Timnas Indonesia muda. Ia mengungkappenyebab kegagalan pemain muda saat masuk usia senior 

SURYA.co.id | JAKARTA - Indra Shafri mengungkap penyebab pemian muda yang gagal tampil dengan performa terbaiknya saat berada di usia senior. Sehingga banyak pemain muda yang tampil bagus dan berprestasi mentereng di level Timnas Indonesia muda, tapi meredup saat di usai senior.

Menurut Indra Sjafri, banyak pemain muda yang menunjukan penampilan ciamik saat di Timnas Indonesia muda tapi 'menghilang' saat usai senior.

Indra Jafri yang cukup berpengalaman menangani pemain usai muda bersama Timnas Indonesia kelompok umur mengaku, ada dua faktor yang menyebabkan pemain muda gagal berprestasi di level senior.

Pemain muda yang gagal bersinar saat usai senior, kata Indra Sjafri, tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Di negara nail, pemain muda yang tampil bagus kala di usai junior justru gagal berprestasi saat senior.

Indra Sjafri pun mengungkap dua faktor utama yang mempengaruhi pretasi pemain.

Pertama adalah faktor individu, Direktur Teknik Timnas mengatakan kepribadian berpengaruh besar dalam perjalanan karier seorang pemain. Hipotesis tersebut sudah dia buktikan melalui riset, baik menggunakan instrumen psikologis maupun pengamatan pribadi.

"Pada era Evan (Dimas) saya memprediksi 20 -30 persen miss. Dari mana? Dari rasio test, hasil psikotes, pengamatan setiap hari, anak ini bakal begini-begini, itu ada perkiraan seperti itu,” jelas Indra Sjafri dikitip Surya.co.id dari laman Kompas,com.

Indra Sjafri menilai, banyak faktor yang memengaruhi kepribadian pemain. Sosial dan lingkungan menjadi faktor terbesar membentuk masa depan pemain.

Indra Safri menyebut, pada usia 19-23 tahun adalah masa pencarian jati diri, sehingga lingkungan yang bagus akan membentuk karakter seorang pemain.

"Kan pergulatan batin dan godaan itu tinggi sekali, makanya butuh pendampingan. Atau mereka bisa masuk klub yang benar-benar menjadikan mereka aset dan betul-betul bisa menjaga," terang pelatih asal Sumatera Barat ini.

Faktor kedua yakni kesempatan. Indra Sjafri mengatakan seorang pemain muda membutuhkan kesempatan untuk mengasah diri. Kesempatan juga dibutuhkan untuk membuktikan diri.

Masalahnya, banyak pemain yang tergesa-gesa ingin tampil di level tertinggi. Sementara itu, level kompetisi profesional tentu berbeda dengan pemain-pemain timnas kelompok usia.

Akhirnya mereka tidak mendapatkan banyak jam terbang karena kalah bersaing.

"Karena kebanyakan anak-anak kita kalau sudah masuk timnas maunya tampil di Liga 1. Padahal investasi terbesar itu bermain (jam terbang), kenapa tidak mau bermain di Liga 2 dulu," ucap mantan pelatih Bali United tersebut.

"Ini yang ikut kami pikirkan, kompetisi Liga 1 dan Liga 2 penghargaannya jangan terlalu jauh berbeda. Karena memang Liga 1 di samping nama, dari sisi penghasilan juga lebih tinggi," beber Indra Sjafri.

Editor: Fatkhul Alami
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved