Breaking News:

Berita Jember

Hasil Diskusi Daring di Jember, Sekolah Diminta Tekan Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual terjadi salah satunya disebabkan adanya superioritas dan relasi kuasa.

surya/sri wahyunik
capture 

SURYA.CO.ID, SURYA - Pusat Studi Gender (PSG) Universitas Jember (Unej) menggelar diskusi virtual bertema 'Penguatan Institusi Pendidikan untuk Mereduksi Kekerasan Seksual', Selasa (28/7/2020). Diskusi daring ini digelar seiring maraknya fenomena kekerasan dalam pacaran dan kekerasan berbasis internet.

Dina Tsalist Wildana, satu pemateri dalam diskusi membeberkan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, bahwa di Indonesia, 2.909 pelaku kekerasan seksual tadalah pacar atau kekasih korban.

Dosen Fakutas Hukum Unej mengatakan hal itu terjadi salah satunya, disebabkan adanya superioritas dan relasi kuasa. "Untuk mereduksi kekerasan seksual tersebut, institusi pendidikan perlu mengambil peran untuk mereduksi kekerasan seksual," tegas Dina.

Hal senada diungkapkan Ni'mal Baroya, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Unej yang juga pemateri dalam diskusi tersebut. Baroya menegaskan, sekolah juga harus bertanggung jawab atas terjadinya pelecehan seksual, seperti kekerasan dalam pacaran.

"Jangan malah sekolah membiarkan kekerasan terjadi, atau mengeluarkan korban dari sekolah dengan dalih menjaga nama baik sekolah," tegasnya.

Menurutnya, dampak kekerasan dalam pacaran dan kekerasan berbasis internet ini dapat dialami oleh semua orang. Namun dampak yang dirasakan oleh perempuan jauh lebih parah mengingat perempuan mengalami bias gender yang cukup kental di masyarakat.

“Karena itu perlu berbagi pengetahuan untuk membangun persepsi yang sama terkait penanganan kekerasan terhadap perempuan. Lebih lanjut, semua elemen di masyarakat wajib membangun jaringan dan bergerak bersama untuk mencegah dan menangani berbagai kasus kekerasan,” ujar Ketua PSG Unej, Linda Dwi Eriyanti.

Menurutnya, PSG UNEJ melaksanakan diskusi daring itu sebagai bentuk kepedulian Universitas Jember dalam membangun keadilan gender, mencegah serta menangani kasus kekerasan, dan mengontruksi tradisi tanpa kekerasan di masyarakat.

"Harapannya, bisa mewujudkan institusi pendidikan sebagai salah satu pusat untuk mereduksi kekerasan seksual," ujar Linda.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved