Breaking News:

Berita Surabaya

DPRD Desak Pemkot Surabaya Sediakan Ruang UTBK Khusus Peserta yang Hasil Rapid Test-nya Reaktif

Wakil Ketua DPRD Surabaya mendesak Pemkot menyediakan ruang khusus UTBK untuk para peserta yang hasil rapid test-nya dinyatakan reaktif

surya.co.id/ahmad zaimul haq
Peserta saat mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Minggu (5/7/2020). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Puluhan peserta Ujian Tulis Berbasis komputer (UTBK) gagal meraih mimpi berkuliah di PTN pilihannya sebelum mereka ikut tes.

Mereka tak bisa lagi ikut UTBK susulan hanya karena dinyatakan reaktif covid-19.

"Ini tak boleh terjadi. Siswa yang ikut UTBK gelombang kedua namun dinyatakan reaktif dinyatakan gugur sebagai peserta UTBK. Harus ada solusi," kata Wakil Ketua DPRD Surabaya, Reni Astuti, Selasa (28/7/2020).

Peserta UTBK II yang reaktif hasil tes onsite di Unair ada 34 siswa atau calon peserta. Sementara di ITS ada 26. Mereka bisa gugur karena tak ada tes UTBK susulan untuk mereka.

Berbeda dengan peserta UTBK gelombang I  yang dinyatakan reaktif, mereka masih memiliki kesempatan untuk ikut UTBK susulan yang digelar pada Kamis (30/7/2020) asal menunjukkan hasil swab test negatif. 

Reni mendorong agar Pemkot Surabaya ikut mencarikan solusi. Sebab semua ini katanya bermula dari SE wali kota No 421.4/5853/436.8.4/2020 yang mensyaratkan peserta UTBK membawa hasil tapid test nonreaktif.

Kampus sebagai penyelenggara UTBK menambahkan syarat rapid test ini. Ingat, siswa SMA itu persiapan masuk PTN sejak bertahun-tahun lalu. 

“Jangan sampai mimpi anak Surabaya pupus hanya karena hasil reaktif dari rapid test yang tentunya tidak mereka inginkan. Apalagi tidak selalu mereka yang reaktif itu terpapar covid-19," kata Reni. 

Kata Reni, penting bagi pemerintah kota untuk turun beri solusi menjamin hak anak untuk mengikuti UTBK.

Caranya, pertama, fasilitasi test swab untuk yang hasil rapidnya reaktif dengan hasil swab sebelum tanggal 30 Juli 2020. 

Kedua, jika sampai tanggal 30 Juli 2020 peserta yang reaktif ini belum mendapatkan hasil swab negatif, selama yang bersangkutan kondisinya tidak bergejala, harus ada alternatif solusi. 

"Misalnya mengerjakan di ruang isolasi yang terpisah dari peserta ujian lainnya. Pemkot saya dorong menyediakan  sarana prasarana operasionalnya juga SDM yang dibutuhkan. Kecuali peserta sudah parah hingga ada gangguan pernapasan," kata Reni. 

Reni kembali menegaskan bahwa jika pemerintah kota mengeluarkan aturan rapid /swab bagi peserta UTBK guna mengendalikan penyebaran Covid-19 maka pemerintah kota sepantasnya juga turut memberikan solusi terkait p dengan hak anak untuk mengikuti UTBK. 

Apalagi setelah tahapan SBMPTN ini berakhir, akan ada tahapan seleksi mandiri. Beberapa kampus ada yang menjadikan nilai UTBK sebagai kriteria seleksi mandiri. 

Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved