Breaking News:

Berita Blitar

Setelah Limbah Pabrik Susu, Warga Blitar Juga DIguyur Polusi Pabrik Gula

Ketua Komisi III, Sugianto menyebut pabrik gula PT Rejoso Manis Indo (RMI) ketahuan, dan mengakuinya.

surya/imam taufiq
Warga menunjukkan air Sungai Lemon di Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitr yang sudah tercemar berat oleh limbah pabrik gula. 

SURYA.CO.ID, BLITAR - Kerusakan lingkungan di Kabupaten Blitar, terutama di kawasan aliran sungai, benar-benar sudah darurat. Belum tuntas pencemaran air Sungai Genjong di Kecamatan Wlingi, sekarang giliran Sungai Lemon di Desa Rejoso, Kecamatan Binangung yang terbukti tercemar residu tetes tebu dari pabrik gula.

Lagi-lagi, temuan pencemaran dari pabrik gula itu didapatkan dalam sidak Komisi III DPRD Kabupaten Blitar, Jumat (24/7/2020) lalu. Ketua Komisi III, Sugianto menyebut ulah dari pabrik gula PT Rejoso Manis Indo (RMI) itu ketahuan, dan pihak pabrik mengakuinya.

Akibat buangan tetes tebu cair ke Sungai Lemon, habitat ikan di dalamnya mati, sedangkan air menebar bau busuk dan warga tidak bisa memanfaatkannya untuk mencuci, menyiram tanaman atau mengairi pertanian.

"Kami juga sidak ke pabrik gula RMI. Itu karena kami mendapatkan keluhan warga karena tak kuat dengan bau dari sungai yang tercemar itu," kata Sugianto, Senin (27/7).

Sugianto dan rombongan mendapat penjelasan dari Putut Hendaruji, Quality Control (QC) RMI. Putut tak menampik kalau Sungai Lemon, yang hanya berjarak beberapa meter dari pabrik, terkena dampak.

Penyebabnya, tabung atau tempat penampungan jus tebu seringmeluber dan tumpah ke sungai. "Mohon maklum. Kami pabrik baru sehingga perlu banyak pembenahan. Terutama pada tabung penampungan jus tebu yang sering meluber ke sungai," ujar Putut kepada anggota Komisi III.

Dalam sidak itu, Komisi III mengajak Kepala Inspektorat, Ahmad Lazim; Kadis Lingkungan Hidup, Krisna Triatnanto; Kadis Peternakan, Andi Andaka, Satpol PP dan beberapa pejabata Pemkab Blitar.

Putut menambahkan, pihak RMI siap memperbaikinya agar sungai tak tercemar lagi. "Termasuk, filter pembakaran kami juga sering rusak, sehingga menyebabkan polusi udara," ujar Putut.

Terkait keluhan warga atas banyaknya truk tebu yang parkir sampai sepanjang 10 KM, Putut mengatakan,sudah dibuatkan lahan parkir khusus agar tak memenuhi jalan desa lagi.

"Kami sudah membuatkan tempat parkir di kawasan hutan Brongkos sepanjang 8 KM dengan lebar 10 meter. Itu artinya, truk-truk tebu yang akan mengirim ke pabrik tak lewat jalan raya melainkan kami buatkan jalan khusus," paparnya.

Tetapi Sugianto meminta agar pencemaran Sungai Lemon segera diselesaikan agar warga tak terus-terusan terkena dampaknya. "Ujung-ujungnya, kami jadi tempat mereka mengadu. Untungnya, mereka bisa diredam, bagaimana kalau mereka berbuat semaunya sendiri, misalnya datang ke pabrik?" tegas politisi Partai Gerindra itu.

Sementara Kepala Inspektorat, Ahmad Lazim mengatakan sudah berulangkali mengingatkan RMI agar mengendalikan limbahnya dan tak menyebabkan warga protes. "Kalau pabriknya sudah berjanji ada pembenahan, bagus lah," paparnya.

M Trianto, koordinator LSM Komite Rakyat Pemberantasan Korupsi (KRPK) menyesalkan sikap para wakil rakyat yang persuasif itu. Ia menilai, seharusnya dewan juga menanyakan mengapa lahan hutan produktif diubah fungsinya menjadi lahan parkir truk tebu.

"Kami akan cek Kementrian Kehutanan, siapa yang berani bermain untuk mengalihfungsikan lahan hutan itu," tegas Trianto.

Penulis: Imam Taufiq
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved