Berita Kota Batu

Bisnis Tanaman Kota Batu Kembali Mekar, Omzet pun Makin Cetar

Merawat tanaman hias menjadi kegiatan menyenangkan di masa pandemi karena harus menghabiskan banyak waktu di rumah.

surya/benni indo
Pengunjung melihat-lihat tanaman hias milik Anang di Desa Sidomulyo, Kota Batu, Minggu (26/7/2020). Bisnis tanaman hias terus mengalami peningkatan seiring berakhirnya PSBB. 

SURYA.CO.ID, BATU – Warga Kota Batu mulai bangkit dari keterpurukan setelah terdampak pandemi Covid-19. Mereka mulai bersemangat kembali menghidupkan sendi perekonomian. Satu di antaranya adalah pelaku bisnis tanaman hias Nanang Mukhlis, warga Jalan Cemara Kipas, Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu.

Di awal masa pandemi, sektor pertanian termasuk di antaranya bisnis tanaman hias memang terdampak. Apalagi Kota Batu memang dikenal dengan pertaniannya, selain sebagai tujuan wisata.

Perlahan namun pasti, bisnis tanaman hias mulai diminati banyak orang. Warga yang selama ini banyak beraktivitas di rumah, memilih kegiatan memelihara tanaman sebagai kesibukkan.

"Saat PSBB kemarin, penjualan terganggu karena orang luar Batu tidak boleh masuk tetapi sekarang sudah kembali normal. Perputaran transaksi sudah lancar bahkan meningkat melebihi sebelum Corona," ungkap Nanang, Minggu (26/7/2020).

Saat ini, dijelaskan Nanang, hampir semua tanaman laku keras. Pemasarannya bisa melalui online atau penjualan langsung. Beberapa jenis tanaman yang menjadi buruan adalah tanaman gantung, krisan, bibit mawar, alokasia, anthurium, sansevieria, syngonium, philodendron, varian sirih, puring, palem, dan banyak lainnya.

Tetapi yang paling digemari adalah golongan philodendron, terutama monstera. Tanaman yang tergolong mudah perawatannya ini bisa diletakkan di dalam ruangan (indoor) atau luar ruangan (outdoor).

Saat ditemui, Nanang tengah merapikan sejumlah tanaman. Ia pun menceritakan kondisi tanaman dan harga-harganya. Harganya lumayan terjangkau, antara Rp 75.000 hingga Rp 360.000 untuk ukuran sedang.

Jika semakin besar tentu harga semakin mahal. Tetapi dari semua itu, yang membikin geleng-geleng kepala yaitu harga monstera variegata atau yang memiliki kelainan pigmen warna daun, yang biasa hijau menjadi putih maupun kuning, bisa menyentuh jutaan rupiah.

Rata-rata pedagang mematok harga dengan menghitung jumlah daun serta corak warna varigata yang berpadu dengan warna hijau. Daya tarik lainnya yaitu bentuk daun unik pecah-pecah menjadi nilai eksotis tersendiri.

Semua tanaman laku bahkan harganya naik beberapa kali lipat. Salah satunya jenis syngonium. Dulu hanya Rp 10.000 sekarang bisa sampai Rp 250.000 tergantung jenis. “Kalau monstera variegata malah semakin mahal, per daun bisa sampai Rp 1 juta. Itu pun hanya potongan batang, kalau yang varigatanya mewah dan daun berjumlah banyak, bisa puluhan juta," jelas Nanang.

Harga menjadi naik karena banyak orang berburu tanaman hias. Merawat tanaman hias menjadi kegiatan yang menyenangkan di masa pandemi karena harus menghabiskan banyak waktu di rumah.

Sebelum korona, omzet per hari Rp 1 juta, sekarang malah naik Rp 2 juta sampai Rp 3 juta perhari. Dia pun membenarkan jika bisnis tanaman hias sangat menguntungkan, sebab jika dirawat dengan baik, tanaman pasti akan tumbuh lebih besar sehingga harga juga naik, belum lagi kalau beranak dan banyak, pasti memiliki nilai ekonomi berlipat-lipat.

Penulis: Benni Indo
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved