Breaking News:

Berita Banyuwangi

Telusuri Semangat Sri Tanjung, Aekanu Hariyono Tulis Kisah Sri Tanjung Hidup Kembali dalam 6 Bahasa

Sri Tanjung digambarkan sebagai seorang perempuan yang memiliki paras cantik, sopan, lembut, dan setia.

"Kisah ini secara utuh saya temukan dalam sejumlah relief candi. Seperti Candi Jabung (Probolinggo), Surowono dan Tegowangi (Kediri), Penataran (Blitar), dan Bajangratu (Mojokerto), dan Candi Sudomolo (Jawa Tengah)," ujar Aekanu di Pendopo Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi, Kamis (23/7/2020).

Selain itu, imbuh Aekanu, kisah lengkap Sritanjung tersebut juga dapat ditemukan di sejumlah naskah kuno yang ditemukan di Bali maupun Banyuwangi sendiri.

Dari kisah utuh itulah, lantas ia menuliskan kisahnya kembali secara utuh dengan judul "Ini Banyuwangi: Sri Tanjung Hidup Kembali".

"Buku ini saya tulis secara utuh kisah Sritanjung. Saya juga membuatnya lebih populer dengan dilengkapi ilustrasi di setiap lembarnya. Tak hanya itu, kisahnya pun dibuat multi-bahasa agar bisa dibaca oleh berbagai kalangan," ujarnya saat peluncuran buku tersebut.

Dalam buku setebal 200-an halaman itu, setidaknya ada enam bahasa yang bisa dibaca.

Mulai bahasa Indonesia, Inggris, Perancis, Spanyol, hingga Jawa dan Osing.

Upaya intelektual Aekanu Hariyono tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sebagaimana disampaikan oleh Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Banyuwangi Amir Hidayat.

Menurutnya, upaya tersebut beriringan dengan upaya Banyuwangi dalam meningkatkan pemulian kebudayaan lokal sebagai salah satu syarat pengajuan sebagai UNESCO Global Geopark (UGG).

"Upaya yang dilakukan oleh Pak Aekanu ini, turut membantu Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam upaya pengajuan sebagai UNESCO Global Geopark. Menurut-ngurusin budaya lokal Banyuwangi, seperti halnya legenda Sritanjung ini, tidak hanya dalam konteks Banyuwangi saja. Namun, diperkenalkan pada dunia dengan beragam bahasa internasionalnya," ungkap Amir.

Apresiasi yang sama juga berdatangan dari sejumlah akademisi dan budayawan. Di antaranya dari Profesor Novi Anoegrajekti, Hasnan Singodimayan, Gandrung Temu, Abdillah Fauzi dan lainnya. 

Penulis: Haorrahman
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved