Breaking News:

Berita Banyuwangi

Pulihkan Banyuwangi lewat Kisah Sri Tanjung dalam Enam Bahasa

Dalam buku setebal 200-an halaman itu, ada enam bahasa yang bisa dibaca. Mulai bahasa Indonesia, Inggris, Perancis, Spanyol hingga Jawa dan Osing.

surya/haorrahman
Intelektual budaya, Aekanu Hariyono memaparkan pesan moril di balik kisah Dewi Sri Tanjung yang menjadi cikal bakal Banyuwangi, Kamis (23/7/2020). 

SURYA.CO.ID, BANYUWANGI - Dewi Sri Tanjung tidak hanya sekadar legenda bagi masyarakat Banyuwangi, tetapi juga merupakan sosok yang menjadi asal muasal nama Banyuwangi, menjadi akar semangat budaya bagi masyarakat Bumi Blambangan.

Sri Tanjung digambarkan sebagai seorang perempuan yang paras cantik, sopan, lembut, dan setia. Ia dibunuh oleh oleh suaminya, Sidapaksa, yang cemburu akibat hasutan Prabu Sulahadikrama bahwa Sri Tanjung selingkuh.

Sebelum mati, Sri Tanjung mengatakan, apabila darahnya harum (wangi) ia tidak selingkuh. Sebaliknya, jika darahnya bau busuk, berarti Sri Tanjung berbuat seperti yang dituduhkan. Ternyata, darah Sri Tanjung berbau wangi dan mengalir ke sumur yang menjadi awal nama Banyu (air) Wangi (harum).

Namun menurut hasil riset Aekanu Hariyono, cerita Sri Tanjung tidak hanya berhenti sampai di sana. Sri Tanjung pun hidup kembali. Ia kemudian bersama suaminya, Sidapaksa, berbalik menyerang Prabu Sulahhadikrama. Sang raja lalim itu pun berhasil ditumbangkan. Lalu, Sidapaksa dan Sritanjung pun menjadi pemimpin di Kerajaan Sinduraja.

"Kisah ini secara utuh saya temukan dalam sejumlah relief candi. Seperti Candi Jabung (Probolinggo), Surowono dan Tegowangi, (Kediri), Penataran (Blitar), dan Bajangratu (Mojokerto), dan Candi Sudomolo (Jawa Tengah)," ujar Aekanu di Pendopo Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi, Kamis (23/7/2020).

Selain itu, imbuh Aekanu, kisah lengkap Sritanjung juga dapat ditemukan di sejumlah naskah kuno yang ditemukan di Bali maupun Banyuwangi. Dari kisah utuh itulah, lantas ia menuliskan kisahnya kembali secara utuh dengan judul "Ini Banyuwangi: Sri Tanjung Hidup Kembali".

"Buku ini saya tulis utuh dari kisah Sritanjung. Saya juga membuatnya lebih populer dengan dilengkapi ilustrasi di setiap lembarnya. Tak hanya itu, kisahnya dibuat multibahasa agar bisa dibaca oleh berbagai kalangan," ujarnya saat peluncuran buku tersebut.

Dalam buku setebal 200-an halaman itu, setidaknya ada enam bahasa yang bisa dibaca. Mulai bahasa Indonesia, Inggris, Perancis, Spanyol hingga Jawa dan Osing.

Upaya Aekanu tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sebagaimana disampaikan oleh Sekretaris Bappeda Banyuwangi, Amir Hidayat. Menurutnya, upaya tersebut beriringan dengan upaya Banyuwangi meningkatkan pemulihan kebudayaan lokal sebagai salah satu syarat pengajuan sebagai UNESCO Global Geopark (UGG).

"Upaya yang dilakukan oleh Pak Aekanu ini, turut membantu Pemkab Banyuwangi dalam upaya pengajuan sebagai UNESCO Global Geopark. Mengurusi budaya lokal Banyuwangi, seperti halnya legenda Sritanjung tidak hanya dalam konteks Banyuwangi saja. Namun juga diperkenalkan ke pada dunia dengan beragam bahasa internasionalnya," ungkap Amir.

Apresiasi yang sama juga berdatangan dari sejumlah akademisi dan budayawan. Di antaranya dari Profesor Novi Anoegrajekti, Hasnan Singodimayan, Gandrung Temu, Abdillah Fauzi dan lainnya.

Penulis: Haorrahman
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved