Breaking News:

Berita Malang Raya

Belum Ada Kompensasi, Tanaman Jeruk Malah Dirusak Suruhan Kades

Ali menduga aksi pengerusakan itu ada hubungannya dengan Bumdes Dewarejo Desa Selorejo. Pengerusakan itu terjadi lebih dari satu kali.

surya/erwin wicaksono
Petani jeruk asal Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Ali Machrus menunjukkan surat pemanggilan terkait tuduhan pencurian jeruk, Rabu (22/7/2020). 

SURYA.CO.ID, MALANG - Polemik perebutan lahan sewa tanaman jeruk di Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, dilalui para petani dengan penuh intimidasi dan teror. Mulai belum jelasnya kompensasi atas perawatan tanamannya, sampai diintimidasi bahkan diteror pengerusakan atas tanaman jeruk yang dirawat dengan susah payah.

Para petani yang menyewa lahan milik tanah kas desa sudah dilaporkan dan dipanggil ke Polres Malang atas tuduhan pencurian jeruk di lahan sendiri. Namun mereka bersikukuh memperjuangkan nasibnya.

"Kalau mau diambil tanah sama tanamannya (jeruk), seakan kami ditampar," ujar Ali Machrus (53) salah seorang petani jeruk di Desa Selorejo yang juga dilaporkan ke polisi.

Ketika ditemui di lahan jeruk yang ia sewa, Rabu (22/7/2020), Ali menceritakan awal mula polemik itu. Semua bermula pada Januari 2020, saat Kepala Desa Selorejo, Bambang Suponyono, mengumpulkan para petani di balai desa.

Tujuannya menginformasikan bahwa tanah kas desa yang disewa petani akan dikelola Bumdes (Badan Usaha Milik Desa). "Saat itu katanya akan mendapat kompensasi perawatan pohon jeruk. Namun, ujung-ujungnya tidak ada Sementara sewa saya habisnya bulan 9 (September) 2020," ujar Ali.

Pada April 2020, Ali mendapati kenyataan pahit. Kala itu, ia menyaksikan pohon jeruk yang ia tanam rusak. Kerusakan itu diduga dilakukan oleh seseorang. "Jadi buah-buah jeruk yang masih hijau dipetik. Padahal masih muda, belum layak petik," tutur Ali.

Ali menduga aksi pengerusakan itu ada hubungannya dengan Bumdes Dewarejo Desa Selorejo. Menurutnya, pengerusakan itu terjadi lebih dari satu kali. "Awalnya dengar-dengar belum ada bukti. Baru ada bukti ya April itu, waktu kejadian kami langsung mendatangi. Kami pergoki ternyata kata yang merusak, ia disuruh Bumdes sama kades," ungkap Ali.

Ali menyesalkan peristiwa tersebut. Pasalnya merawat tanaman jeruk hingga panen tidaklah mudah. "Padahal perawatan hingga panen harus menunggu 9 hingga 10 bulan, tetapi masih 6 bulan sudah dirusak," sesalnya.

Pria kelahiran Pujon, Kabupaten Malang itu merasakan kerugian atas pengerusakan itu. "Saat itu petani langsung melaporkan kepada kepolisian," tutur Ali.

Memasuki Juli 2020, buah jeruk di Desa Selorejo menguning. Artinya, petani mulai memanen jeruk yang mereka tanam sejak 10 tahun silam. Belum merasakan panen, pada 13 Juli 2020 ada 10 petani jeruk termasuk Ali yang mendadak dilaporkan ke Polres Malang atas tuduhan pencurian.

"Saya dilaporkan mencuri jeruk, awalnya hanya melihat Pak Sugeng dan Pak Ngateman memanen tanamannya sendiri. Namun menurut Bumdes itu melanggar aturan Bumdes, padahal itu tanaman milik petani sendiri," jelas Ali.

Ali memberi tahu bahwa ia ingin mengungkapkan kenyataan bahwa tanah itu milik warga. "Saya justru dituduh provokator dan dilaporkan atas tuduhan pencurian. Ini pencemaran nama saya, saya bisa laporkan balik," tegasnya.

Penulis: Erwin Wicaksono
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved