Breaking News:

Travel

Blusukan Bersejarah Ala Komunitas Tamasja Tourism Center, Telusuri Kembali Bouwplan

Para peserta diajak blusukan melihat bangunan rumah bersejarah yang ada di Kelurahan Rampal Celaket.

tribun jatim/kukuh kurniawan
Bangunan bersejarah yang ada di Kelurahan Rampal Celaket Kota Malang. 

SURYA.CO.ID, MALANG - Komunitas Tamasja Tourism Center melakukan kegiatan blusukan bersejarah di Kelurahan Rampal Celaket, Kecamatan Klojen, Kota Malang., Minggu (19/7/2020).

Kegiatan blusukan sejarah dipandu tiga narasumber, yaitu Budi Fathony, Deasy Yumnasari dan Rudy Peter Stanley.

Dengan memakai masker serta face shield, para peserta diajak blusukan melihat bangunan rumah bersejarah yang ada di Kelurahan Rampal Celaket.

Seperti komplek perumahaan lama di sepanjang Jalan Dokter Soetomo dan bekas Terminal Patimura yang saat ini telah berubah menjadi bangunan ruko.

Narasumber kegiatan, Deasy Yumnasari mengatakan, kegiatan blusukan mengambil tema Telusur Sejarah Rencana Pembangunan Pemkot Malang (Bouwplan I).

"Jadi sekitar tahun 1916, Belanda membuat perencanaan pembangunan yang disebut Bouwplan I di wilayah Kelurahan Rampal Celaket. Bouwplan I khusus untuk membuat perumahaan bagi warga elit Eropa," ujarnya.

Lokasi perumahaan yang masuk dalam Bouwplan I adalah di Jalan Dr. Cipto, Jalan RA Kartini, Jalan Dokter Soetomo, Jalan Diponegoro, Jalan MH Thamrin dan Jalan Cokroaminoto.

"Dan di daerah perumahaan tersebut, dulu dinamakan Oranjeebuurt (daerah oranye)," tambahnya.

Dirinya mengungkapkan, Bouwplan di Kota Malang tidak sebatas Bouwplan I saja, melainkan hingga Bouwplan VIII.

"Sehingga sebenarnya dulu Kota Malang sangat terencana dan detail sekali tata kotanya. Mulai perumahaan, pasar hingga makam tertata," ungkapnya.

Dirinya menambahkan, tujuan kegiatan blusukan bersejarah untuk menambah ilmu pengetahuan bagi para pemandu pariwisata sejarah Kota Malang.

"Sehingga bila ada tamu wisata datang ke Kota Malang, para pemandu wisata sejarah ini bisa menjelaskan lebih rinci detail berbagai bangunan bersejarah yang ada di Kota Malang," jujurnya.

Rudy Peter Stanley menuturkan, kegiatan ini sebenarnya telah cukup lama diagendakan.

"Namun baru hari ini bisa terealisasi, dan karena ini masih dalam pandemi Covid 19 maka para peserta kami batasi jumlahnya. Peserta kegiatan juga wajib membawa peralatan protokol kesehatan seperti hand sanitizer, masker, serta face shield," tandasnya.

Penulis: Kukuh Kurniawan
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved