Viral di Whatsapp, Sosok Cewek Tanpa Busana Muncul dalam Webinar Dosen Uncen, Begini Klarifikasinya

Video dan foto tangkap layar acara webinar dosen Universitas Cenderawasih (Uncen), Marinus Yaung, mendadak viral di Whatsapp (WA). Ini klarifikasinya

Istimewa/Kompas.com
Sosok Cewek Tanpa Busana Muncul dalam Webinar Dosen Uncen, Begini Klarifikasinya 

SURYA.co.id - Video dan foto tangkap layar acara webinar dosen Universitas Cenderawasih (Uncen), Marinus Yaung, mendadak viral di Whatsapp (WA) baru-baru ini.

Yang menjadi sorotan adalah sempat tiba-tiba muncul cewek tanpa busana pada saat webinar berlangsung.

Bahkan video dan foto tangkap layar acara webinar tersebut tersebar sampai ke luar negeri.

Dalam video dan foto yang viral itu, terdapat informasi yang menyebutkan perempuan di belakang Marinus merupakan pekerja seks komersil (PSK).

Marinus Yaung pun sudah memberikan klarifikasi terkait hal itu, seperti dilansir dari Kompas.com dalam artikel 'Perempuan Tanpa Busana Muncul di Belakangnya Saat Webinar, Ini Klarifikasi Dosen Uncen'

Berikut klarifikasinya:

1. Ternyata anak perempuannya

Tangkapan layar saat Marinus Yaung menjadi salah satu pemateri dalam webinar Mengapa Isu Papua Diinternasionalisasi pada Senin (13/7/5/2020)
Tangkapan layar saat Marinus Yaung menjadi salah satu pemateri dalam webinar Mengapa Isu Papua Diinternasionalisasi pada Senin (13/7/5/2020) (Istimewa/Kompas.com)

Saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon pada Rabu (15/7/2020), Marinus Yaung mengaku telah membuat pernyataan klarifikasi melalui akun media sosialnya.

Dalam klarifikasinya, Marinus menegaskan perempuan itu merupakan anak perempuannya yang masih duduk di kelas empat sekolah dasar (SD).

"Ini anak perempuan saya, dan dia baru habis mandi sore di rumah kontrakan saya di Jakarta Timur, dan mau ganti pakaian jadi namanya juga anak-anak, langsung nyosor saja ketika saya lagi ikut webinar siaran langsung dari rumah," tulis Marinus di akun Facebooknya.

2. Akan tempuh jalur hukum

Marinus memastikan akan membawa masalah ini ke ranah hukum.

Sebab, informasi yang disebarkan pihak tak bertanggung jawab itu dianggap sebagai pembunuhan karakter.

Ia juga menyayangkan anaknya yang tidak tahu apa-apa menjadi korban dari penyebaran informasi tidak benar itu.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved