Breaking News:

Berita Lamongan Jawa Timur

Berkat Kopi, Usaha Travel Kembali Bergerak selama Pandemi

Para penggemar kopi merupakan segmen potensial dan ideal untuk dijaring agar bisa mendorong usaha travel

surya/hanif manshuri
Suasana dalam kabin Bus Coffee yang menawarkan perjalanan berkeliling Lamongan sambil menikmati kopi atau penganan lainnya yang digagas pengusana biro perjalanan, Kamis (16/7/2020). 

SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Ada pandemi Covid-19 atau tidak, kebiasaan sebagian besar masyarakat Indonesia ngopi tetap berlangsung. Dan segmen penggemar kopi ini ditangkap sebagai peluang oleh pengusaha biro perjalanan atau travel untuk menggerakkan usaha transportasinya yang mandek akibat Covid-19.

"Sejak awal pandemi, banyak armada yang menganggur. Praktis selama lima bulan terakhir tak ada bus kami yang beroperasi sama sekali," kisah Tina Indriani, pemilik PO Biru Samudra di Jalan Andansari Lamongan, dalam perbincangannya, Kamis (16/7/2020).

Ketimbang hanya menjerit saat situasi menjepit, Tina pun memutar otak agar bus-bus miliknya bisa terus bergerak. Kalau semua armada bergerak, maka perekonomian keluarga para karyawannya pun bergerak karena ada pemasukan.

Dan tak disangka, 'bahan bakar' untuk armadanya bukan bensin melainkan kopi. Kok bisa?

Tina melihat, para penggemar kopi merupakan segmen yang potensial dan ideal untuk dijaring agar bisa mendorong usahanya. Sebagai pengusaha, Tina menerapkan cara sendiri yaitu Amati, Terapkan dan Modifikasi.

Realisasinya, ia mensurvey kesulitan orang ngopi sekarang adalah mencari lokasi yang nyaman dan aman dari Covid-19, dan sekarang tidak boleh keluar rumah. Mereka harus diajak ngopi sambil keliling naik bus. Agar tidak bosan, orang ngopi dalam bus harus diberi suasana baru yaitu berkeliling sedangkan interior bus dipercantik.

Tawaran ngopi mobile atau menikmati minum kopi di dalam bus sambil berkeliling wilayah Lamongan serta melihat berbagai destinasi wisata itu, memang berhasil. Tina sampai menyulap bus wisatanya alas bus cafe.

Bus-bus cafe yang melayani rute wisata ini disebutnya Blue Cafe. Selama naik bus berkeliling Lamongan, para penumpang disuguhi kopi, penganan dan minuman lainnya. "Kalau ngopi di rumah sudah biasa, termasuk di kedai, warkop dan coffee shop. Tetapi belum banyak orang yang merasakan ngopi dalam bus," ungkapnya.

Bus cafe bisa menjadi obat mengusir kejenuhan di rumah dan rindu aktivitas di luar . "Ada sensasi yang bikin penasaran terus, " katanya.

Meski barlabel bus cafe, bus ini tetap memperhatikan protokol kesehatan karena peminatnya cukup besar. Penumpang akan dicek suhunya memakai thermo gun sebelum naik dan disediakan hand sanitizer. Duduknya juga diatur bersilang dan berjarak, serta harus memakai masker, kecuali saat menyesap kopi.

Tina menuturkan, bentuk bus yang semula berisi 60 kursi penumpang kini dipangkas menjadi hanya 30 kursi. Tata letak kursi dibuat seperti kafe yaitu berhadapan mengapit meja. Dan sensasinya, dari jendela bus yang lebar, penumpang bisa melihat pemandangan dan keindahan selama perjalanan.

Untuk berjalan-jalan keliling sambil ngopi alias Ngopi Mobile' penumpang hanya mengeluarkan kocek Rp. 25.000, dan Rp 50.000 untuk jalan-jalan ke wilayah Pantura Lamongan dan Gresik. Mereka masih mendapatkan jatah makanan ringan dan minuman.

Pengusaha bus juga bekerja sama dengan kafe-kafe yang populer di Lamongan. "Keberadaan bus cafe ini disambut antusias oleh masyarakat yang reservasi dulu," terangnya.

Salah seorang pelanggan bus cafe, Umi Salamah menuturkan, keberadaan bus cafe bisa menjadi alternatif ngopi dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Selain ngopi, Umi bisa jalan-jalan keliling Lamongan dan Pantura Lamongan. "Untuk refreshing," katanya.

Penulis: Hanif Manshuri
Editor: Deddy Humana
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved