Breaking News:

Bahan Baku Tebu Langka, Komisaris PTPN XI Menyebut Komitmen Pabrik Gula Baru di Jatim Tidak Berjalan

Terkait langkanya bahan baku tebu dan dugaan kompetisi tidak sehat yang dilakukan pabrik gula (PG) swasta, diakui Komisaris Utama PTPN XI

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Cak Sur
Istimewa
Truk pengangkut tebu saat serahkan muatannya di pabrik gula untuk digiling. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Menyikapi audiensi Serikat Pekerja Pabrik Gula yang berasal dari PTPN X, XI, Serikat Pekerja Rajawali Nusantara dan SPPP SPSI PG Kebon Agung yang melakukan audiensi dengan komisi B DPRD Jawa Timur Senin (13/72020) lalu, terkait langkanya bahan baku tebu dan dugaan kompetisi tidak sehat yang dilakukan pabrik gula (PG) swasta, diakui Komisaris Utama PTPN XI, Dedy Mawardi.

Menurut Dedy, saat ini benar telah terjadi kompetisi bahan baku tebu (BBT) tersebut.

"Apa yang disampaikan kawan-kawan serikat pekerja kemarin benar, pola kemitraan yang sudah lama terjalin rusak akibat motif transaksional," kata Dedy, Rabu (16/7/2020) kemarin.

Menurutnya, hal itu harus diperhatikan oleh pihak terkait. Pihaknya juga menagih komitmen para PG baru. Di antaranya harus memenuhi sekurang-kurangnya 20 persen dari keseluruhan bahan baku yang dibutuhkan berasal dari kebun sendiri.

"Ini sudah diatur dalam Permentan maupun undang-undang tentang perkebunan, yang artinya harus ditaati bila dilanggar harus ada konsekuensinya. Instansi terkait yang jadi wasitnya," ungkap Dedy.

Pihaknya menyayangkan komitmen tersebut tidak berjalan, sehingga PG baru tersebut mengambil BBT dari petani yang sudah bermitra dengan pabrik gula yang sudah eksisting.

Hal ini mengakibatkan selain rusaknya pola kemitraan, BBT PG eksisting berkurang dan tidak bisa memenuhi kapasitas giling.

"Saat ini ada dua PG baru di Jatim. Musim giling ini mereka membeli tebu petani dari luar daerahnya dan petani tersebut merupakan mitra pabrik gula eksisting dengan harga di atas rata-rata," jelas Dedy.

Dampaknya luas, mulai dari rusaknya pola kemitraan, pengembalian petani atas pinjaman modal dari PG juga tersendat bahkan macet, hingga kapasitas yang tidak tercapai, idle capasity yang akhirnya menyebabkan pabrik gula rugi dalam beroperasional.

Bila hal ini terus berlanjut maka Dedy memprediksi akan ada banyak penutupan atau pengalihfungsian pabrik gula yang berakibat langsung pada nasib tenaga kerja.

"Tentunya hal ini akan berdampak pada tenaga kerja PG yang dialihfungsikan atau bahkan ditutup yang jumlahnya ribuan," tegas Dedy.

Untuk itu, pihaknya kepada semua para pihak agar menepati komitmen masing-masing. Pola kemitraan dengan petani tebu yang sudah berjalan dari dulu jangan dirusak dengan motif transaksi.

Inti permasalahan adalah kurangnya BBT, PG baru harus membangun kebun sendiri untuk memenuhi kebutuhannya, demikian juga PG eksisting selain harus memenuhi BBT-nya juga menjaga performa dalam pabrik.

"Klop, semua pihak jaga komitmennya," ujar Dedy.

Terkait dengan upaya PTPN XI dalam memenuhi BBT dan performa pabrik, Dedy Mawardi menambahkan, upaya manajemen PTPN XI di antaranya kerja sama agroforesty dengan berbagai pihak, sewa lahan dan akuisisi HGU untuk lahan tebu, membangun pola kemitraan dengan petani hingga program modernisasi dan penambahan kapasitas pabrik gula.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved