Breaking News:

Berita Malang Raya

Pria Kejam di Malang Berkali-kali Setubuhi Anak Kandungnya, Berupaya Tusuk Paha Korban Pakai Gunting

Pelaku tega melakukan pencabulan berkali-kali kepada anaknya sejak tahun 2017, bahkan mengancam membunuh anaknya jika berani membongkar aksinya

SURYA.CO.ID/Erwin Wicaksono/Montage
Pelaku pencabulan anak kandung, NS saat di Polres Malang, Kamis (9/7/2020). 

SURYA.CO.ID, MALANG - Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Malang menangkap NS (45), karena telah melakukan pencabulan kepada anak kandung perempuannya yang masih berusia 16 tahun, Kamis (9/7/2020).

"Kasus ini terungkap setelah korban menceritakan ke ibunya dan akhirnya melaporkan kasus ini ke Polres Malang," ujar Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar ketika gelar rilis di Polres Malang.

Hendri menjelaskan, pelaku merupakan warga Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang.

"Pelaku tega melakukan pencabulan berkali-kali kepada anaknya sejak tahun 2017," tutur Hendri.

Bahkan, NS pernah mengancam akan menghilangkan nyawa anaknya jika berani menceritakan tindakan tak terpuji itu ke istrinya alias ibu korban.

"Pelaku bahkan sempat mengancam akan membunuh korban jika membongkar perbuatannya kepada ibu korban," beber Hendri.

Tak hanya ancaman pembunuhan, pelaku juga sempat mengancam melakukan tindak kekerasan kepada korban dan tidak menafkahi istri dan keluarga.

"Agar hasratnya dituruti, pelaku sempat melancarkan tindakan kekerasan. Tak kunjung mendapat pelayanan dari korban, tersangka akhirnya melakukan upaya penusukan dengan menggunakan gunting ke paha korban," kata Hendri.

Akibat perbuatannya, tersangka dikenakan pasal berlapis. Yakni, UU perlindungan anak dan UU kekerasan dalam rumah tangga.

Alasan Pria yang Setubuhi Anak Kandung di Malang Ini Bikin Jengkel, Polisi Analisa Kejiwaan Pelaku

"Pasal 81 dan Pasal 82 UU perlindungan anak Tahun 2002 diperbarui Nomor 35 tahun 2014, ancaman hukumannya 5 sampai 7 tahun,"

"Serta pasal 46 UU Nomor 35 tahun 2004 tentang kekerasan dalam rumah tangga ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara," jelas Hendri.

Penulis: Erwin Wicaksono
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved