Breaking News:

Berita Gresik

Siswi SMP di Gresik Korban Persetubuhan Melahirkan, Sidang Anggota DPRD yang Sogok Rp 1 M Batal

DPRD Gresik sudah mengegendakan sidang kode etik anggota DPRD Gresik, Nur Hudi Didin Arianto yang diduga terlibat memberi uang damai Rp 1 M

Surabaya.Tribunnews.com/Willy Abraham
Anggota BK DPRD Gresik saat menunggu kedatangan pelapor di DPRD Gresik dalam agenda sidang kode etik atas dugaan keteribatan Nur Hadi yang memberikan uang damai Rp 1 M ke keluarga korbans upaya kasusnya tak berlanjut ke ranah hukum, Senin (6/7/2020). 

SURYA.co.id | GRESIK - Kasus dugaan pencabulan dengan korban siswi SMP di Gresik memasuki babak baru. DPRD Gresik sudah mengegendakan sidang kode etik untuk anggota DPRD Gresik, Nur Hudi Didin Arianto yang diduga dalam keterlibatannya memberikan uang damai Rp 1 miliar agar korban pencabulan dan tersangka tidak sampai ke ranah hukum.

Cuma, agenda sidang kode etik untuk anggota DPRD Gresik, Nur Hudi Didin Arianto batal digelar. Pihak pelapor yang merupakan kakak dari korban memilih tidak hadir.

Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Gresik, Fakih Usman mengaku sejak pagi telah menerima laporan dari pihak pelapor yang merupakan kakak dari korban pencabulan di bawah umur oleh tersangka Sugianto (50) berhalangan hadir.

"Tadi lewat kuasa hukumnya juga ngabari kalau tidak hadir karena korban (MD) melahirkan," kata Fakih, Senin (6/7/2020).

Pihaknya bersama anggota BK DPRD Gresik tetap hadir. Bahkan menunggu kedatangan pelapor bersama anggota lainnya di DPRD Gresik.

Hingga pukul 10.00 Wib, pihak pelapor benar-benar tidak datang. Sehingga disepakati bersama akan dilakukan pemanggilan kedua.

"Sidang pertama kita jadwalkan kembali Senin Minggu depan, karena hari ini pelapor tidak hadir," terang Fakih.

Pihaknya akan melakukan pemanggilan sebanyak tiga kali. Jika selama tiga kali pihak pelapor tidak hadir maka kasus dugaan Nur Hudi yang memberikan iming-iming uang damai Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar kepada MD siswi SMP yang dihamili Sugianto agar berdamai maka telah berakhir.

Dikonfirmasi terpisah, pihak pelapor bernama Chandra itu membenarkan jika pada pemanggilan pertamanya tidak hadir. Wanita asal Benjeng ini mengatakan dia memilih tidak hadir karena korban yang merupakan adiknya yang masih duduk di bangku SMP sedang persiapan melakukan proses persalinan.

"Mohon maaf saya tidak bisa ikut soalnya, ngurus adek besok mau lahiran di Rumah Sakit, ini sekarang masih ngurus surat-suratnya," terangnya.

Chandra menyebut jika akan memilih mencabut laporan terkait dugaan pelanggaran kode etik Nur Hudi ke BK DPRD Gresik. Dia ingin fokus mengurus adiknya yang akan melahirkan anak pertama.

"Kalau bisa di cabut aja soalnya beban buat saya. Saya mau fokus ngurus adek, kasihan Ibu sudah tua sering sakit tidak bisa merawat adek. Yang penting satu tujuan saya udah terpenuhi, pelaku pencabulan sudah di tahan dan harus di hukum," pungkasnya.

Disinggung mengenai apakah ada pihak lain yang mencoba mempengaruhi. Chandra membantah, keputusan ini murni keputusan pribadi.

"Tidak ada itu. Murni niat saya sendiri soalnya beban buat saya," pungkasnya.

Kini usia kandungan MD telah memasuki sembilan bulan. Siswi SMP ini akan melakukan proses lahiran di sebuah rumah sakit yang berada di wilayah Kecamatan Kebomas, Gresik.

Penulis: Willy Abraham
Editor: Fatkhul Alami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved