Breaking News:

Berita Surabaya

Orangtua dan Calon Mahasiswa Harus Antre Berjam-Jam Demi Rapid Test, 'Harusnya Sosialisasi Dulu'

Keputusan Pemkot Surabaya tentang menunjukkan hasil rapid test corona (Covid-19), sebagai syarat wajib UTBK SBMPTN 2020, tuai polemik bagi masyarakat

febrianto ramadani/suryamalang.com
Suasana berlangsungnya Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) di Institut Teknologi 10 November (ITS) Surabaya di Gedung Menara Sains, Minggu siang (5/7/2020) 

SURYA.co.id | SURABAYA - Keputusan Pemkot Surabaya tentang menunjukkan hasil rapid test corona (Covid-19), sebagai syarat wajib mengikuti UTBK SBMPTN 2020, menuai polemik bagi masyarakat. Para peserta mengeluhkan kebijakan tersebut karena dianggap tidak ada sosialisasi terlebih dahulu, tanpa melakukan pemberitahuan kepada masyarakat.

Mayasari (18) misalnya, perempuan asal Paciran, Lamongan, tersebut, menilai, langkah pemerintah dalam mencegah penularan virus corona itu secara mendadak.

"Harusnya sosialisasi jauh jauh hari. Agar bisa disiapkan keperluannya. Biar tidak makan banyak waktu, terutama ketika mengurus surat ke pemerintahan setempat," keluhnya, sambil menunggu tes gelombang kedua, Minggu siang (5/7/2020).

Perempuan yang mendaftar di Fakultas Matematika dan Ipa ini mengaku, merogoh kocek sebesar Rp 200 ribu untuk mengikuti rapid tes di Rumah Sakit Nahdlatul Ulama Lamongan.

"Pertama kali ikut tes hasilnya nonreaktif. Tapi tetap takut tidak ketrima kalau misalkan positif corona. Waktu itu tes nya jam 9 pagi hasilnya jadi pukul 4 sore," jelasnya.

Mayasari berharap, pemerintah memfasilitasi rapid tes kepada masyarakat dengan gratis.

Tentunya dilakukan jauh jauh hari sebelum mengadakan kegiatan itu.

"Kasihan bagi yang enggak mampu. Apalagi masyarakat juga banyak yang ketinggalan informasi. Ditingkatkan lagi pelayanannya," pungkas perempuan lulusan MAN Tuban tersebut.

Sementara itu, Muhammad Anwar, orangtua Putri Anindita Anwar, mengatakan, putrinya baru pertama kali mengikuti rapid tes di Puskesmas Buduran.

"Hasilnya kami ambil jam 4 sore dan menunjukkan non reaktif. Kami antri jam 10 pagi. Waktu itu yang antri 100 orang. Kaget juga dan dadak," kata Anwar yang mendaftarkan putrinya di Fakultas Teknik Desain Komunikasi Visual.

Anwar berharap ke depan pemerintah menciptakan harga rapid tes yang terjangkau bagi masyarakat, serta, bukan hanya calon mahasiswa saja yang difasilitasi.

"Para pelamar kerja juga diikutkan rapid tes. Kalau bisa dipisah segmentasinya. Sering dilakukan pengarahan rapid tes agar banyak yang ikut," tuturnya.

Penulis: Febrianto Ramadani
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved