Breaking News:

Berita Banyuwangi

Membudayakan Generasi Milenial Banyuwangi, Menjadi Petani Itu Keren!

Di tangan kreatif anak-anak muda hebat di Banyuwangi ini, hasil-hasil pertanian jadi punya nilai ekonomis yang lebih.

Istimewa
Agrowisata Tamansuruh (AWT) yang terletak di Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah. Destinasi agrotourism seluas 10 hektare terdapat berbagai sayuran hingga buah-buahan organik. 

Selain daerah dengan potensi pertaniannya, Banyuwangi kini juga dikenal dengan pariwisatanya. Banyak anak-anak muda yang memadukan potensi pertanian menjadi daya tarik pariwisata.

Di Kelurahan Lerek, Desa Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, anak-anak muda yang mayoritas petani kopi menawarkan paket wisata lengkap, mulai melihat proses mengolah kopi, adventure ke kebun kopi dan menginap di rumah penduduk dengan nuansa kebun kopi rakyat.

Para pemilik kebun kopi yang sebelumnya hanya menjual biji kopi pada tengkulak, dididik untuk memproses kopi sendiri, lalu memproduksi bubuk kopi dengan harga yang jauh lebih mahal.

"Para petani kami ajak untuk mengolah biji kopi menjadi bubuk dengan standar yang benar. Tak lagi hanya menjual biji kopi. Kami branding lalu kami pasarkan. Secara ekonomi jauh lebih menguntungkan," kata Hariyono, warga Lerek.

Petik kopi di Lerek Gombengsari, Banyuwangi. Desa yang menawarkan wisata jelajah pertanian kopi rakyat.
Petik kopi di Lerek Gombengsari, Banyuwangi. Desa yang menawarkan wisata jelajah pertanian kopi rakyat. (Istimewa)

Desa ini mengenalkan brand Kopi Lego yang diambil dari nama daerah itu, Lerek Gombengsari. Terdapat berbagai varian kopi, seperti kopi luwak, lanang, arabika, robusta, leberica dan house blend (campuran arabika dan robusta).

Hariyono mengatakan, masyarakat Gombengsari juga membuat paket wisata agrowisata. Kontur Desa Gombengsari yang berada di dataran tinggi dengan track yang menantang, menarik wisatawan untuk menjelajah desa ini menggunakan mobil offroad.

Mulai tracking kebun kopi, melihat petik kopi, pemrosesan biji kopi secara tradisional, hingga minum kopi dan menyantap kuliner, dan buah lokal khas Gombengsari.

Banyuwangi juga memiliki Agrowisata Tamansuruh (AWT) yang terletak di Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah.

Destinasi agrotourism seluas 10 hektare terdapat berbagai sayur hingga buah-buahan organik.

”Pengunjung bisa mengonsumsi langsung di lahannya. Ini akan menjadi experience unik sekaligus meningkatkan kesehatan,” kata Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Arief Setiawan

Lokasi ini berada di kaki Gunung Ijen mengusung agrotourism. Menampilkan beragam pertanian Banyuwangi, mulai padi hitam organik hingga beragam buah dan sayur organik.

Juga ada hamparan bunga-bunga cantik warna warni yang menjadi spot Instagrammable.

Destinasi ini juga menjadi tempat edukasi pertanian, sekaligus lahan percobaan/demplot. Ada 33 varietas melon dikembangkan, termasuk melon chamoe, varietas melon asli Korea yang jadi primadona di Indonesia.

”Sudah sukses dikembangkan di sini dan bisa diaplikasikan petani di lahannya masing-masing,” ujarnya.

Di Banyuwangi untuk menarik minat anak-anak muda pada dunia pertanian, rutin digelar Banyuwangi Agribusiness Startup Competition, digelar tiap tahun sejak 2017.

Pada 2019 lalu terdapat 653 anak muda yang turut serta dalam kompetisi perencanaan dan bisnis rintisan pertanian.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, Agribusiness Startup Competition merupakan ikhtiar pemerintah untuk menarik minat generasi milenial agar terjun ke bisnis pertanian sekaligus untuk meregenerasi pelaku usaha pertanian.

”Anak-anak muda milenial perlu mengambil peran di dunia pertanian. Menjadi petani itu keren, tidak kalah keren menjadi youtuber, tiktok, atau selegram,” kata Anas.

Anas mengatakan dari kompetisi ini ternyata banyak anak-anak muda dengan kualifikasi pendidikan yang cukup memadai untuk mengakselerasi dunia pertanian.

”Di Indonesia data menunjukkan, 72 persen petani berpendidikan SD. Dari ajang ini semoga lahir petani-petani muda visioner dan melek teknologi, baik untuk peningkatan produktivitas, pengolahan pascapanen, maupun pemasaran pertanian,” katanya.

Meskipun 80 persen dari Banyuwangi, ajang ini juga banyak diikuti anak-anak muda dari berbagai daerah, mulai Makassar, Mataram, Yogyakarta, Jakarta, Malang, Jember, Batu, Bondowoso, Pasuruan, Kediri, Bangkalan, Bandung, Manado hingga Semarang.

Beragam karya mulai olahan pangan beragam komoditas pertanian, platform internet of things pertanian dan perikanan darat, platform crowdfunding bisnis pertanian, hidroponik, hingga pengolahan limbah pertanian, peternakan dan agribisnis lainnya.

Penulis: Haorrahman
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved