Berita Surabaya

Politisi Nasdem Sebut Sujudnya Risma di Depan Dokter Bukti Ketidakmampuan Membuat Warga Patuh

Politisi Nasdem, Vinsensius Awey mennyebut sujudnya Risma di depan dokter sebagai bentuk keputusasaan dan ketidakmampuannya membuat warga patuh

surya.co.id/nuraini faiq
Momen Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mendadak bersujud di hadapan dokter spesialis paru saat pertemuan dengan IDI di halaman Balai Kota Surabaya, Senin (29/6/2020). 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra

SURYA.co.id | SURABAYA - Wakil Ketua DPW Nasdem Jawa Timur Bidang Media dan Komunikasi Publik, Vinsensius Awey ikut bersuara menanggapi aksi sujud Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini kepada seorang dokter dari RSUD dr Soetomo Surabaya.

Menurut Awey, bersujudnya Tri Rismaharini menunjukan ketidakmampuannya dalam menertibkan warganya agar patuh untuk menjalankan protokol kesehatan.

Namun bisa juga, Risma, sapaan akrab Tri Rismaharini ingin menunjukan kepada publik bahwa seakan-akan pengelola RSUD dr Soetomo sangat kejam dan bertindak tidak adil terhadap warga Kota Surabaya karena berkali kali menolak untuk bertemu dan berkoordinasi dengan Risma.

"Kalau tujuannya adalah yang kedua maka ini sangat berbahaya karena dapat menyesatkan penggiringan opini dari hal yang benar bisa menjadi tidak benar dan sebaliknya," kata Awey, Selasa (30/6/2020).

Padahal jika merujuk data yang ia dapatkan RSUD dr Soetomo perhari ini telah dihuni oleh 79% pasien ber KTP Surabaya.

Untuk itu lah Awey mempertanyakan tujuan Risma menangis dan bersujud di hadapan dr Sudarsono.

"Kalau RS Soetomo bertindak diskriminatif terhadap warga kota Surabaya, boleh lah Wali Kota bersujud berkali kali dan meminta belas kasihan," lanjutnya.

Awey menyebut bahwa RSUD dr Soetomo merupakan milik Pemprov Jawa Timur yang melayani 38 kota / kabupaten se Jawa Timur.

Sehingga jika RSUD dr Soetomo melayani bukan hanya warga Kota Surabaya adalah hal yang wajar.

"Tapi yang paling membahayakan adalah kalau sampai 'bermain korban' (playing victim) seolah-olah memposisikan diri sebagai seorang korban untuk berbagai alasan dan ujung-ujungnya mengalir simpati kepada korban. Sisi lain hujatan kepada pihak RSUD dr Soetomo dan Pemprov yang diposisikan sebagai subyek yang menindas korban," kata Awey.

Menurut Awey seharusnya Risma dengan seluruh jajaranya fokus untuk memutus rantai Covid 19 dan atau mengurangi penyebaran pandemi covid 19 ini.

"Bukannya meledak-ledak, menangis dan bersujud. Ketiga hal itu tidak mampu untuk menurunkan jumlah pasien covid dari hari ke hari dan bukanlah protokol mitigasi kesehatan. Sehingga tidaklah perlu bertindak terlalu jauh sampai bersujud," ujar Awey.

Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved