Breaking News:

Smartwealth

Strategi Investasi Reksa Dana di Masa New Normal

Dimulainya penerapan tatanan kenormalan baru (new normal) setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berakhir diprediksi dapat membangkitkan pote

Bank Commonwealth
Gambaran market yang masih volatile. Market berpotensi membaik dengan memasukinya tatanan kenormalan baru atau new normal. Head of Wealth Management&Premier; Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya menyebutkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini dalam kondisi cukup solid. 

SURYA.co.id, SURABAYA – Dimulainya penerapan tatanan kenormalan baru (new normal) setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berakhir diprediksi dapat membangkitkan potensi pertumbuhan ekonomi dan  peluang investasi,  sehingga market juga akan membaik.

Karena itu, Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya  menyebutkan saat ini adalah waktu tepat untuk berinvestasi walaupun volatilitas di market masih akan tinggi selama belum ditemukan vaksin Covid-19. “Namun, dengan pengembangan vaksin yang dilakukan para ilmuwan serta dibukanya kembali aktivitas ekonomi, kami optimistis (market akan membaik) terutama dalam jangka panjang,” katanya.

Ivan memaparkan fundamental ekonomi Indonesia saat ini dalam kondisi cukup solid. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2020 tetap rendah, tercatat 0,07% (mtm). Secara tahunan inflasi IHK Mei 2020 tercatat sebesar 2,19% (yoy). Ke depan, Bank Indonesia terus berkomitmen menjaga inflasi tetap rendah dan terkendali dalam sasarannya sebesar 3,0% ± 1% pada 2020.

Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2020 sebesar 130,5 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 8,3 bulan impor atau 8,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. “Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan,” tandasnya.

Untuk pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2020, lanjut Ivan, walaupun pertumbuhannya di bawah estimasi yaitu hanya di level +2,97% namun ternyata dibandingkan negara lain, pertumbuhan ini masih menjadi salah satu yang tertinggi. Dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Malaysia +0,7%, Thailand -1,8%,China -6,8%, Jepang -2,2% serta Singapura -0,7%.

Ivan memastikan kondisi fundamental Indonesia yang cukup baik ini dapat membuat para investor asing kembali melirik Indonesia sebagai salah satu negara emerging market yang menjadi tujuan investasi. “Saat PSBB investor masih ragu-ragu untuk mulai membeli reksa dana saham. Dengan dibukanya kembali aktivitas ekonomi maka investor menjadi lebih confidence,” ujarnya.

Khusus untuk investor pemula yang ingin mencoba investasi di pasar saham, dari sisi valuasi saat ini di level 14x akan menjadi saat yang tepat untuk memulai. Karena IHSG sendiri valuasi secara historikal di level 17-18x. “Untuk itu jangan tunda lagi dan mulailah membeli saham dengan porsi sesuai risk profile Anda dan jangan lupa agar tetap aman investasi dari rumah saja melalui digital atau mobile banking,” tandasnya.

Ivan mengingatkan pastikan dulu dana darurat sudah ideal lalu berinvestasi. Pilihlah instrumen investasi yang sesuai dengan tujuan investasi, profil risiko dan jangka waktu. Setelah itu bisa membentuk portofolio yang isinya terdiri dari beberapa kelas aset. Misalnya reksa dana saham, obligasi serta deposito. Dari reksa dana saham investor bisa mendapatkan potensi capital gain dari kenaikan harga saham, dari obligasi investor bisa mendapatkan capital gain dari kenaikan harga obligasi serta kupon yang bisa memberikan regular income. Dari deposito investor bisa mendapatkan bunga secara berkala.

Presiden Direktur Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana mengatakan alokasi investasi yang ideal untuk saat ini adalah aset yang lebih berisiko di kisaran 30% sampai 50%, tergantung jangka waktu investasi yang diharapkan nasabah. “Untuk jangka pendek kurang dari satu tahun maka fokus terhadap capital preservation dengan alokasi kas atau reksa dana pasar uang hingga 65% merupakan pilihan yang paling bijak, sisanya 25% pada reksa dana pendapatan tetap atau SUN dengan durasi menengah, dan sisanya 10% pada saham blue chip atau reksa dana saham,” sarannya.

Sedangkan alokasi yang cukup ideal untuk jangka panjang, menurut dia, adalah 50% pada reksa dana saham atau dapat juga dikombinasikan dengan portofolio saham untuk investor berprofil risiko agresif, 30% pada SUN dengan tenor panjang (lebih dari 7 tahun) atau reksa dana pendapatan tetap, sisanya 20% pada reksa dana pasar uang.

Sementara itu, pengamat ekonomi, Lutfi menerangkan, dimulainya masa new normal  membuat sejumlah perusahaan besar bisa melakukan recovery lebih cepat. "Sebab, mereka tidak harus sampai menghentikan produksi di awal pandemi kemarin. Bahan baku masih tersedia sehingga tinggal melanjutkan kembali," kata alumnus Melbourne University ini.

Ia memprediksi angka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih tinggi dibandingkan prediksi Bank Dunia, meskipun lebih kecil dibandingkan target pemerintah hingga akhir tahun.

Mantan Ketua STIE Perbanas Surabaya ini mengatakan Bank Dunia menyebut ekonomi Indonesia belum dapat tumbuh positif (nol persen) sedangkan pemerintah meyakini masih di angka 2,5%hingga akhir tahun 2020. "Kami sendiri memprediksi memang tumbuh positif, namun angkanya  sekitar 1,5% (hingga akhir tahun 2020)," kata Lutfi. (bob)

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved